Senin, 16 April 2018

Renungan Pagi 17 April 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

17  April 2018

Bersamaan, Berkaitan atau Sebab Akibat?

“Walaupun tentara Aram itu datang dengan sedikit orang, namun TUHAN menyerahkan tentara yang sangat besar kepada mereka, karena orang Yehuda telah meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Demikianlah orang Aram melakukan penghukuman kepada Yoas.”  (2 Tawarikh 24:24).

Ayat kita hari ini memiliki corak yang mirip dengan ayat-ayat lainnya dalam kitab Tawarikh. Kata kuncinya adalah “karena.” Karena umat Allah telah berdosa, maka sesuatu yang buruk menimpa mereka. Konsekuensi logisnya adalah orang baik akan mengalami nasib baik dan orang jahat akan menerima hal-hal yang buruk pula.

Dengan teologi semacam ini, jika seseorang menderita, dapat diandaikan bahwa ia adalah seorang jahat. Begitu pula jika seseorang bernasib baik, dapat disimpulkan bahwa ia adalah seorang yang baik. Namun, bukankah cara berpikir seperti ini terlalu menyederhanakan? Apakah hubungan antara damai sejahtera (shalom dalam bahasa Ibrani) dan naik turunnya kehidupan? Berikut ini adalah tiga kemungkinannya:

Pertama, mungkin saja tidak ada kaitannya antara bencana, penyakit, kematian dan moralitas seseorang. Sesuatu yang “buruk” dapat terjadi ketika seseorang melakukan dosa atau setelah orang itu melakukan dosa, tetapi hal tersebut hanya menunjukkan suatu kejadian yang bersamaan. Seorang bocah lelaki sedang berjalan pulang pada suatu malam sambil memukul-mukul tiang listrik dengan kayu yang dipegangnya. Saat itu juga sebagian area kota tersebut diliputi kegelapan. Apakah yang menjadi penyebab putusnya aliran listrik tersebut?

Kedua, ada hubungan antara bencana, penyakit, kematian dan moralitas seseorang. Hubungan saling terkait ini lebih lemah daripada hubungan sebab akibat. Sebagai contoh, mata yang biru dan rambut pirang cenderung ada bersamaan pada satu orang, tetapi yang satu tidak menyebabkan yang lain.

Ketiga, moralitas buruk seseorang dapat menyebabkan bencana, penyakit, dan kematian. Namun sangat sulit menunjukkan hubungan sebab akibat yang pasti dalam hal ini. Metode ilmiah dapat membantu pengendalian unsur-unsur terkait yang dapat memunculkan atau menutupi hubungan sebab akibat tersebut. Jika satu kejadian secara pasti mengikuti kejadian lainnya, jika unsur-unsur lainnya telah terkendali, dan jika dua kemungkinan di atas telah terbukti salah, maka bisa jadi terdapat sebuah hubungan sebab akibat. Kita dapat dengan leluasa menyebutnya sebagai “ilmu pengetahuan,” karena ada cukup bukti yang mendukung kesimpulan tersebut.

Di dalam dunia etika dan agama, kita tidak berurusan dengan ilmu pengetahuan tetapi dengan kepercayaan, dan agama, kita tidak berurusan dengan ilmu pengetahuan tetapi dengan kepercayaan, dan dengan bantuan otoritas nubuatan kita dapat mengerti hubungan-hubungan di atas. Marilah berusaha untuk tidak menghakimi seseorang yang menderita, karena ada sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang yang tak berdosa pun menderita nasib buruk.


0 komentar:

Posting Komentar