Minggu, 08 April 2018

Renungan Pagi 09 April 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

09  April 2018

Kesalahan Siapa?

“Iblis… membujuk Daud untuk menghitung orang Israel” (1 Tawarikh 21:1).

Setiap membaca kisah ini, pertanyaan membanjiri benak kita. Tentu saja kita tidak dapat membahas semuanya di sini. Namun ada satu aspek yang dapat kita sentuh: siapakah yang bertanggung jawab atas keputusan Daud untuk mengadakan sensus di Israel?

Menariknya, Alkitab memberikan berbagai sinyal petunjuk tentang siapa yang bertanggung jawab atas sensus yang menimbulkan kesedihan di hati Raja Daud dan rakyatnya itu. Saya mengajak kita untuk sejenak merenungkan hal ini.
Kitab Tawarikh di dalam ayat hari ini memberitahu kita bahwa Iblislah yang telah membujuk Daud untuk mengadakan  sensus . ini adalah satu-satunya ayat dalam Alkitab di mana kata Ibrani untuk Iblis tidak memakai kata sandang “the”.) Dengan kata lain, “Iblis” dalam ayat ini bukan merupakan kata ganti nama, sebutan, ataupun julukan. Di sini, meskipun tidak dipakai kata sandang  nampaknya pada saat kitab Tawarikh ini  ditulis kata tersebut hendak merujuk pada seseorang. (Bandingkan dengan penggunaan kata “the pastor” dibandingkan “pastor”.) Jadi menurut kitab ini, Iblislah yang telah membujuk Daud untuk melakukan sensus.
Dalam 2 Samuel 24:1, yang mencatat juga kisah yang sama, kita diberitakan bahwa TUHAN murka kepada Daud dan “menghasut Daud…, firman-Nya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.”  Jadi menurut ayat ini, Allah yang membuat Daud melakukannya… dan kemudian menghukumnya karena telah menaati dorongan Ilahi!
Tapi kita belum sampai diakhir cerita. Catatan di dalam 2 Samuel dan 1 Tawarikh ternyata berisi sinyal yang salah, karena dalam ayat-ayat selanjutnya Daud mengakui bahwa dialah yang memutuskan dilakukannya sensus: “Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah  berdosa dan melakukan kejahatan” (1 Taw. 21 17) dan “Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan” (2 Sam. 24:17). Daudlah yang bertanggung jawab untuk tindakan yang diambilnya (bahkan Yoab, tangan kanannya, sudah mencegahnya melakukan sensus itu), bukan Iblis dan bukan Allah.
Allah telah memberi kita kehendak bebas dan memberi kita ganjaran berat dengan memanggil kita untuk mempertanggung jawabkannya. Itulah yang disebut keadilan. Seperti Daud, kita juga perlu mengakui kesalahan kita. Alasan-alasan “Setan membuatku melakukan ini” atau “Tuhan yang menyuruhku melakukannya” tidak sah. Karena kita telah diberkati dengan kehendak bebas, jawaban kita satu-satunya adalah “ya, saya bersalah.” Dan ketika kita mau bertanggung jawab atas tindakan kita, maka Allah, hakim kita yang pemurah, dapat memberikan ampunan yang kita butuhkan.


0 komentar:

Posting Komentar