Jumat, 06 April 2018

Renungan Pagi 07 April 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

07  April 2018

Kerajaan Siapakah Ini?

“Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya” (1 Tawarikh 17: 14).

Kita sering berbicara tentang kerajaan Saul atau pemerintahan Daud atas bangsanya. Dan berbicara seperti itu tidak terlalu salah. Tapi ada sesuatu yang lain dalam potret ini ketimbang hanya Saul, Daud, Salomo,Yoas, atau para penguasa lain yang duduk di singgasana, yang sedang memimpin kerajaan mereka.

Samuel tidak senang ketika mendengar tuntutan orang Israel yang menghendaki seorang raja (1 Sam. 8:5). Tetapi Allah menjelaskan kepadanya bahwa “bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (ay. 7). Namun Allah tidak menyerah begitu saja. Boleh jadi mereka menolaknya-Nya sebagai raja mereka, tapi ia tak pernah menolak mereka sebagai umat-Nya.

Kesetiaan mereka dalam perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham tergantung pada ketaatan mereka terhadap kehendak Allah, tapi kesetiaan Allah muncul dari sifat belas kasihan-Nya yang berubah.

Karena bukanlah sesuatu yang aneh bagi kita bila Allah masih menganggap diri-Nya sebagai raja. Ia tak pernah melupakan janji-Nya: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel. 6:6). Allah juga berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan-Nya (Kel. 19:5), dan di tempat lain Musa menunjukkan bahwa Allah telah memilih Israel sebagai “umat kesayangan-Nya” (Ul. 14:2). Di dalam terjemahan bahasa Inggris, “aneh” atau “ganjil.” Sedangkan bahasa aslinya Ibrani, menggunakan kata yang berarti “milik pribadi” atau milik yang berharga.” (Ternyata kata “peculiar” berasal dari kata dalam bahasa Latin yang berarti “milik pribadi.”) Dan juga di sepanjang Alkitab, orang Israel sering di sebut sebagai “umat-Nya.” Dan Allah sendiri memanggil mereka “umat-Ku.”

Sehingga bukan tanpa makna bila Allah mengatakan kepada Daud bahwa Ia akan “menegakkan dia (Salomo) dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku” (1 Taw. 17:14). Orang Israel masih menjadi umat Allah. TUHAN masih memerintah mereka karena yang mereka dirikan adalah kerajaan-Nya. Salomo, dengan kata lain, adalah raja bawahan dari TUHAN. Allah masih memerintah; Salomo adalah penguasa kedua. Dan karena itulah dikatakan bahwa Salomo duduk di “atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel” (1 Taw. 28:5).


Kita adalah makhluk terbatas, manusia lemah yang tidak berdaya mengusir Allah yang tak terbatas dan maha kuasa dari atas taktha-Nya. Kita bisa saja mengusir-Nya dari hati kita, tetapi itu tidak dapat membuat-Nya menyingkir dari kita.

0 komentar:

Posting Komentar