Selasa, 03 April 2018

Renungan Pagi 04 April 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

04 April 2018

Kematian Tragis Uza

“Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu” (1 Tawarikh 13:9, 10).

Dalam keseluruhan Alkitab, terkadang kita mempunyai ayat-ayat yang membingungkan. Untungnya yang seperti itu tidak banyak, namun cukup untuk menantang cara pandang yang biasa kita anut. Penggalan kisah Uza ini adalah salah satu cerita yang membingungkan itu.

Raja Saul menelantarkan tabut perjanjian pada saat itu berarti sangat menyepelekan Allah, karena tabut itu mewakili kehadiran pribadi TUHAN sendiri. Seperti halnya Bangsa Israel telah menampar “Allah langsung di wajah-Nya dengan meminta seorang raja, demikianlah kerajaan pertama mereka melanjutkan penghinaan itu dengan menelantarkan tabut-Nya. Daud memutuskan untuk memperbaiki situasi ini.

Setelah meminta pendapat para pengikutnya. Daud bersama-sama dengan rombongan pergi ke Kiryat Yearim, di mana tabut ditempatkan di rumah Abinadab. Mereka meletakkan tabut di atas sebuah kereta lembu, dan dengan semangat tinggi bernyanyi, bermain musik dan menari, dan memulai perjalanan ±130km ke Yerusalem, di mana Daud sudah mendirikan sebuah tempat suci – tenda untuk menaunginya.

Ketika menjejakkan kaki mereka di tanah Kidon, lembu-lembu itu terantuk sesuatu sehingga keretanya bergoyang, dan tabut terjungkit. Uza, anak Abinadab yang mengemudikan kereta mengulurkan tangannya menahan tabut agar tidak terjatuh ke tanah dan hancur berantakan. Malang baginya TUHAN menganggapnya sesuatu yang lancang, dan “membunuh dia.”

Maka iring-iringan itu pun tidak beranjak lebih jauh, dan benda berlapis emas itu pun disemayamkan di tempat kediaman Obed-Edom. Lama setelah kejadian itu barulah Daud mencoba lagi usahanya. Kali ini ia menyuruh suku Lewi untuk membawa tabut dengan cara mengusungnya di atas bahu mereka sesuai apa yang diajarkan Musa. Sekali lagi proses tabut berjalan diiringi tari-tarian dan nyanyian sukacita menuju ke Yerusalem, di mana tabut itu ditaruh di tempat suci yang telah disiapkan oleh Daud.


Daud dengan tulus hati hendak memberikan rumah bagi tabut Allah di ibukota. Uza, juga dengan tulus hati mencoba menyelamatkan tabut agar tidak jatuh dan hancur berantakan. Lalu mengapa murka Allah sebagaimana yang dilakukan-Nya? Di saat lain TUHAN berkenan menerima situasi  yang ada. Reaksi Allah cukup membingungkan – karena biasanya murka Allah dijatuhkan pada mereka yang memberontak kepada-Nya. Barangkali, betapapun baiknya niat seseorang, yang penting adalah melakukannya dengan cara yang benar.

0 komentar:

Posting Komentar