Kamis, 29 Maret 2018

Renungan Pagi 30 Maret 2018


Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

30  Maret  2018

“Orang Kecil”

“Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti seorang anak dan ia menjadi tahir” (2 Raja-raja 5:14).

Naaman memimpin tentara Aram menyerang Israel, melawan umat Allah. Ia seorang yang “terpandang… dan sangat disayangi” oleh raja Aram, “seorang pahlawan.” (2 Raj. 5:1). Tetapi di balik kehebatannya, ia menderita “sakit kusta” (ay.1).

Naaman membawa banyak orang Israel  sebagai tawanan perang dan di antaranya terdapat seorang gadis tak bernama, yang kemudian menjadi budak yang melayani istri Naaman. Mengetahui penderitaan tuannya, gadis ini berkata, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentuah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya” (ay.3).

Naaman membahas ini dengan raja Aram, yang tanpa membuang waktu langsung memerintahkan Naaman kembali ke Israel, kali ini dengan misi khusus. Tapi untuk alasan yang tidak diketahui, Elisa menolak bertemu Naaman dan menyuruh Gehazi, hambanya untuk menemui Naaman.

Jendral yang perkasa itu tidak terkesan sama sekali dengan cara pengobatan yang disarankan oleh Elisa – berendam tujuh kali di Sungai Yordan. Dengan gusar ia hendak kembali ke rumahnya, tetapi budak-budak yang mengiringinya menyarankan agar Naaman mencoba melakukan apa yang disarankan sang nabi. Prasangka baik mereka pun berbuah, Naaman melakukan pengobatan yang melecehkan harga dirinya itu… dan sembuh.

Dengan penuh rasa terima kasih, Jendral Naaman menawarkan hadiah-hadiah mahal kepada Elisa, yang di tolaknya. Namun Gehazi, budak  Elisa, mengejar Naaman dan berbohong tentang adanya kebutuhan mendesak atas nama Elisa. Ketika Elisa menemukan bahwa budaknya itu telah berlaku curang ia mengutuk Gehazi, yang langsung terjangkit kusta dan harus meninggalkan sang nabi (ay.27).

Dalam kisah yang mendebarkan ini, terdapat peran dari “orang-orang kecil” di dalamnya – yang baik dan yang buruk. Budak perempuan yang melayani istri  Naaman dan budak-budak yang mengiringi Naaman ke Israel sebenarnya tidak memiliki hak suara di hadapan pembesar-pembesar yang mereka layani. Tetapi dalam kisah ini mereka berbicara dengan berani dengan nasihat-nasihat emas dalam kisah ini mereka berbicara dengan berani dengan nasihat-nasihat emas yang membawa kebaikan. Gehazi, budak yang lain, menjadi pembawa pesan dari Elisa yang membawa kesembuhan bagi Naaman. Tetapi belakangan, “orang kecil” ini melakukan hal berbahaya dengan berbohong dan mengambil barang-barang mewah yang bukan miliknya.

Karena kebayakan dari kita adalah “orang kecil,” acapkali kita memandang remeh diri sendiri. Hal ini tentu saja, jauh dari kebenaran.

0 komentar:

Posting Komentar