Rabu, 28 Maret 2018

Renungan Pagi 29 Maret 2018


Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

29 Maret  2018

Bagaimana Menolong Mereka Yang Tertindas

“Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu” (2 Raja-raja 4:7).

Pria tanpa nama dalam kisah ini adalah seorang suami, dan salah seorang anak nabi. Karena beberapa alasan  yang tidak diketahui, pria ini mati meninggalkan keluarganya dalam kondisi mengenaskan karena utang. Para penagih utang hendak menjadikan kedua anaknya sebagai budak untuk melunasi utangnya, seperti yang diatur oleh Hukum Musa.

Ketika jandanya melaporkan persoalannya kepada nabi Elisa, nabi ini menjawab, “Beritahukanlah kepadaku janda apa-apa yang kaupunya di rumah.” (2 Raja. 4:2). Dalam kemiskinannya janda itu tidak memiliki apa-apa – hanya sebuah buli-buli berisi minyak zaitun; yang tentu saja tidak cukup berharga. Maka kata Elisa, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu kedalam segala bejana. Mana yang penuh angkatlah!” (ay. 3,4).

Ketika melakukan perintah itu, secara ajaib minyak di dalam buli-buli tidak habis-habisnya mengisi bejana yang terus didatangkan anak-anaknya dari tetangga mereka. Ketika tidak ada lagi bejana tersisa, janda itu pun bertanya kepada Elisa apa yang harus mereka lakukan. Ia menjawab, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu” (ay.7)

Dalam menolong mereka yang tertindas, kita dapat melakukan tiga hal berikut. Ketiganya tidak saling  bertentangan satu sama lain.

Kita dapat melakukan perbuatan baik dengan memberikan sumbangan uang untuk mengatasi kebutuhan mereka selama beberapa waktu. Tapi banyak orang yang menganggap bantuan uang merendahkan martabat, dan betapa pun miskinnya, mereka akan menolak. Meskipun demikian, terkadang bantuan semacam itulah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi sebuah situasi dengan segera.

Di saat lain kita dapat melakukan hal yang lebih baik dengan menyediakan cara agar mereka dapat menolong diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh Elisa pada kisah hari ini. Anda sering mendengar ungkapan: “Berikan ikan pada orang yang lapar, maka kau hanya memberinya makan untuk hari ini. Tapi ajarkan orang itu memancing, maka kau memberinya makan seumur hidupnya.”

Yang terbaik dapat kita lakukan adalah menghapus penyebab ketertindasan itu, karena penderitaan biasanya hasil dari kesalahan manusia. Kita dapat secara proaktif berjuang demi keadilan bagi semua orang. “Jika melihat kebaikan manusia maka kita bisa berharap adanya kesadaran dari setiap orang, tapi melihat keberdosaan manusia, aturan hukum sangatlah dibutuhkan. Perbuatan amal, selalu dibutuhkan ; tapi itu tidak pernah bisa menggantikan keadilan” (William Sloane Coffin).

0 komentar:

Posting Komentar