Senin, 26 Maret 2018

Renungan Pagi 27 Maret 2018


Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

27  Maret  2018

Api Dari Langit

“Tetapi Elia menjawab, katanya kepada perwira itu: ‘Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu.” Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya” (2 Raja-raja 1:10).

Ahazia, raja Israel mengalami kecelakaan di istananya sendiri, ia jatuh “dari kisi-kisi kamar atasnya” (2 Raj. 1:2). Kemungkinan ia terjatuh dari atap rumahnya . karena tidak yakin apakah bisa sembuh dari sakitnya, ia mengirim utusannya untuk bertanya kepada Baal-Zebub (“allah serangga”), di Ekron, perihal kesembuhannya.

Malaikat TUHAN mengunjungi Elia dan memerintahkannya untuk mencegat utusan-utusan Ahazia. Nabi pun menanyakan kepada mereka, apa maksud kedatangan mereka ke allah Ekron. Tidak adakah Allah di Israel untuk dimintai nasihat? Lalu disampaikanlah pula oleh Elia firman TUHAN tentang Ahazia: “Engkau pasti akan mati” (ay.4). (Terdengar seperti kata-kata di Kejadian 2:17, bukan? Di saat engkau memakannya, “pastillah engkau mati.” Kata-kata Ibrani yang digunakan sama persis!)

Raja merasa tidak puas dengan campur tangan Elia, maka ia mengirim “seorang perwira dengan kelima puluh anak buahnya” (2 Raj.1:9) untuk menangkap Elia. Namun Elia tidak gentar melihat unjuk kekuatan tersebut dan menjawab dengan, “biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu” (ay.10). dan terjadilah seperti itu. Ahazia mengirim pasukan kedua berjumlah 50 orang, dan menemui hasil yang sama. Kemudian pasukan ketiga berjumlah 50 orang. Tapi kepala pasukan ketiga ini tidak bodoh, dan memohon pengampunan kepada Elia. Lalu Allah menyuruh Elia untuk pergi bersama-sama kepala pasukan itu ke Samaria.

Elia terkenal sangat meledak-ledak. Nabi inilah yang mengatur pertempuran  antara Baal dan TUHAN di Gunung Karmel. Dia pula yang membunuh  para nabi Baal (1 Raj. 18:40). Kali ini ia mendatangkan api  dari langit untuk membinasakan 100 tentara dan pemimpin mereka (berbeda dengan Yesus yang menolak mendatangkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang). Nabi-nabi lainnya juga tidak begitu menyolok. Musa sangat lembut hatinya. Yunus kabur dari tugasnya. Yeremia gampang menangis. Hosea lebih mirip seorang yang romantik. Yehezkiel nampak seperti orang yang tidak waras. Dan Allah menghargai kepribadian yang berbeda-beda itu. Sepertinya ia tidak menghendaki penyampaian pesan yang seragam pribadinya. Pria dan wanita denga karakter beraneka ragam dapat melayani-Nya… dengan baik.

0 komentar:

Posting Komentar