Kamis, 15 Maret 2018

Renungan Pagi 16 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

16  Maret  2018

Apakah Orang Yang Dipercaya Berbohong?

“Di manakah Ahimaas dan Yonatan?”  Jawab perempuan itu kepada mereka: “Mereka telah menyeberangi sungai itu.’ Kemudian mereka mencari, tetapi tidak mendapatkannya, lalu pulanglah mereka ke Yerusalem” (2 Samuel 17:20).

Betapapun berhasilnya Daud, tetap saja ada pemberontakan. Sampai-sampai Daud dan pengawal pribadinya harus berlari menyelamatkan diri. Dan ternyata yang memimpin pemberontakan adalah Absalom, anaknya sendiri.

Daud meninggalkan Husai untuk “menyeberang” ke pihak Absalom agar bisa menyusup ke pemberontak yang hendak menggantikan kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya. Absalom yang mencurigai maksud Husai akhirnya termakan oleh mulut manis dan tipuan sang penasihat.

Dua anak muda, Ahimaas dan Yonatan menjadi penghubung Husai dengan Daud. Pada suatu ketika, saat keduanya dalam perjalanan untuk melaporkan rencana Absalom kepada Daud, hampir saja para pemberontak memergoki mereka. “Jadi pergilah ke duanya dengan segera, dan sampailah mereka ke rumah seseorang di Bahurim” (2 Sam. 17:18). Mereka lalu masuk ke dalam sebuah sumur di halaman rumah itu. Lalu perempuan pemilik rumah “mengambil kain tudungan, membentangkannya di atas mulut sumur itu dengan menaburkan butir-butir gandum di atasnya, sehingga tidak kelihatan apa-apa” (ay. 19).

Ketika tentara Absalom tiba, mereka bertanya kepada perempuan pemilik rumah itu, “Di manakah Ahimaas dan Yonatan?” (ay. 20). Pahlawan tak dikenal ini menjawab: “Mereka telah menyeberangi sungai itu” (ay.20). karena tidak berhasil menemukan Ahimaas dan Yonatan, tentara Absalom pun pulang ke Yerusalem dengan tangan kosong. Lalu dua orang agen rahasia itu merangkak keluar dan melaporkan segala sesuatunya kepada Daud.

Baik Husai maupun wanita tak dikenal itu berbohong untuk melindungi Daud. Haruskah mereka melakukan hal itu demi menyelamatkan hidup sang raja? Ini hanyalah dua dari beberapa kejadian di dalam Alkitab di mana orang berkata bohong – dan terkadang hal itu justru diperintahkan oleh Allah sendiri.

Anda tentunya pernah mendengar pengkhotbah bercerita betapa Pencipta kita dengan kebijaksanaan-Nya telah melengkapi makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan kemampuan untuk mempertahankan hidup. Dan bukankah kemampuan itu seringkali berupa tipuan bagi pemangsa mereka?


Bayangkan jika Anda berlindung di rumah seorang sahabat dari kejaran para pembunuh, dan sahabatmu itu tidak mau berbohong kepada para pembunuh yang mengetuk pintu rumahnya dan bertanya apakah Anda ada di dalam. Saya sering mendengar ungkapan, “Jangan percayakan hidupmu pada seseorang yang tidak mau berbohong untuk melindungimu.”

0 komentar:

Posting Komentar