Rabu, 14 Maret 2018

Renungan Pagi 15 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

15  Maret  2018

Siapa Yang Mati Untuk Dosamu?

“Karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (2 Samuel 12:14)

Raja Daud sedang berjalan-jalan di balkon atap istananya. Ketika ia memandang kota yang terhampar di bawahnya, nampaklah seorang wanita cantik yang sedang mandi. Meskipun ia tahu bahwa itu adalah Batsyeba, istri Uria, salah satu prajuritnya yang paling berani, Daud tetap menyuruh wanita itu datang ke kamarnya, dan menghampirinya. (Wanita jarang berbicara tentang apa yang dilakukan oleh pria kepada mereka, terlebih lagi jika yang melakukannya adalah seorang raja.)

Tak berapa lama kemudian, wanita itu pun mengandung anak hasil perbuatan Daud kepadanya. Maka Daud menyuruh Uria mengambil cuti, dengan harapan Uria tidur dengan istrinya, tetapi prajurit setia itu memilih tetap “tahir” selama perang berlangsung. Lalu Raja Daud menjamu Uria makan dan minum berharap agar prajuritnya ini mabuk dan pulang ke rumah ke pelukan istrinya. Tetapi itu pun tidak terjadi.

Akhirnya Daud mengirimkan titah kepada Yoab, panglima perangnya, melalui Uria. Yoab pun mengirim Uria ke garis depan hingga prajurit yang gagah berani itu menjumpai ajalnya. Setelah Betsyeba selesai berkabung selama tujuh hari, Daud memerintahkan bahwa dia menjadi istrinya.

Sembilan bulan kemudian Betsyeba melahirkan seorang anak lelaki, tetapi turunlah firman TUHAN melalui nabi Natan: ‘TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. walaupun demikian, …pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” (2 Sam. 12:13, 14). Maka setelah sakit selama seminggu, bayi yang tak bersalah itu – bukannya Daud – yang mati.

Di alam pikiran orang Kristen masa kini, kejadian seperti itu tidak adil. Senapas dengan itu, beberapa abad kemudian Yeremia menyatakan bahwa bukan karena seorang ayah makan buah mentah lalu gigi anaknya menjadi ngilu. Tetapi, “Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri” (Yer. 31:30).

 Hari ini kita percaya bahwasanya kita harus mengampuni orang lain. Mengampuni adalah sikap mental terpuji di mana kita tidak membalas kesalahan orang lain dan secara psikologis membebaskan orang tersebut. Namun bagi orang Timur Dekat pada masa itu, kesalahan (dosa) adalah sesuatu yang tidak bisa dihapus “begitu saja”. Untuk melepaskan beban si pelaku, maka dosa itu harus ditransfer ke pihak ketiga – hewan korban, manusia lain, atau Allah sendiri. Tak ada kesalahan yang tidak mendapatkan balasan, atau akibat dosa  yang menguap “begitu saja.”


Syukur kepada Allah bahwasanya Anda dapat mengampuni saya tanpa harus membunuh anjing peliharaan saya atau menendang kucing Anda ataupun terasa menderita baik fisik maupun mental!

0 komentar:

Posting Komentar