Selasa, 13 Maret 2018

Renungan Pagi 14 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

14  Maret  2018

Allah Yang Fleksibel

“Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari  Mesir  sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman” (2 Samuel 7:6).

Berlawanan dengan niat baik Daud, Allah menyatakan melalui Natan bahwa Ia tidak menghendaki Daud untuk membangun sebuah bait Allah. Terbiasa tinggal di dalam kemah, menyertai umat-Nya, sejak Ia membebaskan mereka, Allah tidak tertarik untuk menetap di sebuah rumah permanen.

Selanjutnya Allah mengatakan bahwa Ia tidak pernah keberatan mengenai tempat kediaman-Nya yang berpindah-pindah. “Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah Aku mengucapkan firman… demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras? (2 Sam. 7:7). Singkat kata, TUHAN merasa nyaman menjadi Allah yang mengembara, menyertai umat-Nya ke mana pun mereka pergi.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa dewa-dewa di Timur Dekat kuno selalu dikaitkan dengan tempat tertentu – allah Ekron atau allah Gat, misalnya. Demikian pula dalam pikiran filsafat Yunani, Allah, karena Ia sempurna, mestilah kokoh tak tergoyahkan, dan tak bisa dipindah-pindah.

Namun ternyata, TUHAN adalah Allah yang selalu bersama (di dekat) umat-Nya. Ia bertindak sebagai seniman yang ahli dalam Penciptaan, membuat taman, membuat seorang lelaki  dan  membangun seorang perempuan. Ia mengunjungi Abraham, menyantap hidangan lezat yang disiapkan leluhur kita. Ia datang langsung ke Sodom dan Gomora untuk melihat sendiri apa yang terjadi. Ia sendiri pula yang memimpin Bangsa Israel mengarungi padang gurun dari Mesir ke Kanaan. Ia menulis Sepuluh Firman dengan tangan-Nya. Dan ketika umat-Nya menderita, Ia turut merasakannya (Yes. 63:9).

Kadang-kadang pernyataan pribadi-Nya nampaknya dalam bentuk nyata seperti yang dialami oleh Abraham dan Musa. Di saat kehadiran-Nya berwujud “malaikat TUHAN.”  Pada kesempatan lain teofani melibatkan “roh yang dari TUHAN.” Dan akhirnya, Allah berbicara tentang seseorang yang disebut “Imanuel,” yang artinya “Allah beserta kita.”

Seiring berjalannya waktu, konsep kehadiran Ilahi pun bergeser. Gagasannya masih sama, namun lebih abstrak, seturut pemikiran filosofis yang tidak dikenal oleh Bangsa Isarel. Mereka berpikir secara konkret, sehingga pribadi Allah pun hadir dalam bentuk nyata. Belakangan makna kehadiran itu berkembang menjadi doktrin tentang Allah yang mahahadir dan di saat yang sama juga transeden (melampaui kenyataan).. 

0 komentar:

Posting Komentar