Jumat, 09 Maret 2018

Renungan Pagi 10 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

10  Maret  2018

Apakah Allah Menyesal?

“Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal” (1 Samuel 15:29).

Raja Saul yang nampak rendah hati di awal pemerintahannnya, segera melupakan tuntunan Tuhan. Contohnya, ketika ia berperang melawan orang Amalek, Samuel telah memerintahkan dengan jelas untuk membunuh segala yang hidup. Namun Saul tidak membunuh Raja Agag bersama dengan kawanan ternak terbaik. Ketika Samuel menegurnya, sang raja membual bahwa para prajuritnyalah yang tidak patuh. Samuel menyatakan bahwa kedudukan raja akan diserahkan kepada orang lain.

Dalam percakapan tersebut Samuel  mengutarakan perkataan yang dicatat dalam Kitab Suci, yang hingga hari ini menjadi teks andalan bagi para teolog yang berpendapat bahwa  segala yang terjadi di masa depan telah pasti. Namun akal sehat kita mempertanyakan mengapa dalam kenyataannya, masa depan tidaklah pasti.

Para pendukung predestinasi meyakinkan kita bahwa masa depan adalah pasti karena Allah yang berdaulat telah mengaturnya secara terperinci. Dengan segala cara, kehendak Allah yang mengatur setiap kejadian – di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Lalu di manakah, kalau begitu, kehendak bebas manusia? Tidak ada. Orang bertindak begini atau begitu karena Allah telah menentukannya sejak semula bagaimana mereka akan bertindak. Manusia hanya merasa bahwa mereka bebas menentukan pilihan, namun itu hanyalah perasaan dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Mereka yang menolak predestinasi mengemukakan bahwa meskipun Allah tidak menentukan dari semula apa yang akan terjadi, dalam kemahatahuan-Nya, Ia telah mengetahui dengan lengkap dan terperinci apa yang akan terjadi. Jadi masa depan sudah pasti. Manusia memiliki kehendak bebas, tetapi Allah telah mengetahui apa yang akan mereka pilih. Jadi, kehendak bebas atau bukan, masa depan telah pasti – apakah (1) karena Allah telah mengaturnya sejak kekekalan atau (2) karena Ia telah mengetahuinya sejak kekekalan pula.

Ada masalah di sini, walaupun, dengan penggunaan 1 Samuel 15:29 sebagai teks andalan, di dalam narasi yang sama – sebelum dan sesudah ayat ini – ditujukkan bahwa Allah dapat mengubah pikiran-Nya: “Aku menyesal karena Aku telah menjadikan Saul raja” (ay. 11) dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel” (ay. 35).

Dan ini bukanlah kejadian satu-satunya. Alkitab penuh dengan petunjuk yang jelas bahwa tidaklah terpenjara oleh kedaulatan kehendak-Nya atau  pun oleh kemahatahuan-Nya. Ia bebas menyesuaikan sikap-Nya ketika makhluk  ciptaan-Nya menggunakan kehendak bebas yang Ia karuniakan bagi mereka. Namun ada yang tidak berubah, yaitu kehendak-Nya untuk memperbaiki dan menyelamatkan kita.


0 komentar:

Posting Komentar