Kamis, 08 Maret 2018

Renungan Pagi 09 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

09  Maret  2018

Kerendahan Hati Seorang Pemimpin

“Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: “Apa orang itu juga datang kemari?” TUHAN menjawab: “Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang” (1 Samuel 10:22)

Beberapa keledai milik Kish, ayah Saul, menghilang – sebuah kebetulan, bisa jadi. Lalu Saul dan seorang pembantunya melakukan operasi penyelamatan mencari sampai jauh, namun tanpa hasil.

Ketika tiba di tanah Zuf, sampailah mereka ke kota di mana Samuel tinggal. “Mungkin ia dapat memberitahu kita tentang perjalanan yang kita tempuh ini” (Sam.9:6), saran pembantu Saul. Sang tuan saat itu sedang tidak membawa sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada Samuel, tapi pembantunya entah dari mana memiliki seperempat syikal perak. Ketika memasuki kota itu, mereka bertemu dengan beberapa orang gadis yang hendak menimba air, dan mendapatkan informasi bahwa Samuel baru saja memasuki kota. Sungguh kebetulan!

Saat kedua pengembara ini memasuki kota, secara lebih kebetulan lagi mereka berjumpa dengan Samuel yang sedang berjalan menuju ke sebuah perjamuan. Samuel mengatakan bahwa keledai-keledai yang mereka cari telah ditemukan, dan ia mengundang keduanya ikut ke perjamuan. Esok paginya sebelum Saul pulang  ke rumahnya, secara tiba-tiba Samuel mengurapinya dengan minyak. Saul akan menjadi raja Israel yang pertama! Samuel lalu menjelaskan bahwa di dekat kubur Rahel mereka akan bertemu dengan dua orang yang membawa kabar tentang ditemukannya keledai mereka yang hilang.

Samuel juga melihat bahwa di dekat pohon Ek di Tabor, mereka akan bertemu dengan tiga orang pria dan yang seorang akan memberi mereka dua buah roti. Dan ketika mereka mencapai Gibea, mereka akan bertemu dengan serombongan orang yang sedang mengalami kepenuhan seperti nabi. “Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka” (1 Sam 10:6}. Dari sana Saul akan berhenti di Gilgal, di mana ia harus menunggu Samuel selama tujuh hari untuk mendapatkan petunjuk berikutnya.  

Di kemudian hari di Mizpa, setelah kejadian-kejadian serba “kebetulan” itu. Samuel melakukan serangkaian kejadian lagi – yang berujung pada penunjukkan Saul sebagai raja. Tapi ketika Samuel hendak mengumumkan petunjuknya mereka kehilangan Saul, yang ternyata menyembunyikan diri.


Terkadang apa yang semula nampak seperti serangkaian kebetulan dapat berubah menjadi kejadian-kejadian yang telah direncanakan oleh Allah. Dan ketika kejadian-kejadian itu berkembang menjadi terpilihnya seorang pemimpin – yang bukan hanya terkejut karena kejadian-kejadian aneh itu namun sekaligus takut akan tanggung jawab yang menantinya sehingga ia bersembunyi (oh, betapa rendah hatinya para pemimpin yang baru terpilih itu!), kita boleh yakin bahwa pemeliharaan Ilahi sedang bekerja.

0 komentar:

Posting Komentar