Jumat, 09 Februari 2018

Renungan Pagi 09 Februari 2018


Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

09  Februari 2018

Ular Tembaga

“Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang: maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya,akan tetap hidup.” (Bilangan 21:8).

Sekali lagi Bangsa Israel mengalami patah semangat (Siapa yang bisa menyalahkan mereka?) dalam kekesalan mereka memberontak kepada Musa dan bahkan melawan TUHAN sendiri. Hal ini jelas suatu pemberontakan. “Di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil. 21:5).

Kata kerja yang dipakai menunjukkan perubahan perasaan orang Israel terhadap manna. Mereka melangkah lebih jauh dengan menyebut manna sebagai “pahit” atau “tengik,” menggunakan kata sifat yang kuat, dari akar kata yang berarti “enteng.” Dengan kata lain, mereka berkeras memandang enteng manna sebagai tak berharga, dan remeh. Lebih jauh lagi, ‘jiwa” mereka berontak bila berpikir tentang makanan dari surga ini. Kata-kata itu mengandung makna bahwa manakala mereka berpikir tentang manna, mereka merasa mau muntah! Mereka terdengar seperti anak-anak yang mengatakan hal-hal seperti itu tentang makanan mereka! Tak heran mereka disebut anak-anak Israel!

Maka TUHAN “menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati” (ay. 6). Alkitab terjemahan King James  menyebut ular tersebut “api,” yang merupakan arti harfiah dari ular, yang biasanya menimbulkan luka melepuh dan mematikan. Banyak orang Israel yang kehilangan nyawanya.

Lalu Musa berpaling kepada Allah, yang menyuruhnya membuat ular dari tembaga. Seseorang yang digigit ular itu, akan sembuh setelah melihat patung ular tembaga.
Orang Timur Dekat tidak asing dengan masalah gigitan ular. Di Mesopotamia ada ritual sihir khusus untuk mengubah ular yang berbisa menjadi tidak berbisa. Praktik lain yang biasa dijumpai disebut “sihir simpati,” yaitu patung yang menyerupai sumber penyakit, yang dipercaya mempunyai  kuasa penyembuhan.

Pada umumnya doa dan sihir selalu bergandengan tangan, karena keduanya berdasarkan kepercayaan adanya makhluk halus di balik semuanya. Akan tetapi bahkan hal-hal baik – hal-hal yang suci – dapat berubah menjadi batu sandungan. Selama berabad-abad ular tembaga menjadi objek penyembahan dan disebut “Nehustan,” Karena itulah Raja Hizkia memusnahkannya.

Di dalam Alkitab, hal-hal “buruk” berubah menjadi “baik” (seperti ketika Allah mengambil nama-nama dewa berhala) dan hal-hal “baik” bisa berubah menjadi “buruk” (seperti Nehustan). Allah memberi kita kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

0 komentar:

Posting Komentar