Senin, 26 Februari 2018

Renungan Pagi 27 Februari 2018


Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

27  Februari 2018

Sumpah Ceroboh Yefta

“Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani amon ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran” (Hakim-hakim 11:30,31).

Ketika suku Amon mendirikan tenda di Gilead. Bagsa Israel berkemah di Mizpa. Tetapi mereka tidak mempunyai komandan untuk mengatur rencana dan mengobarkan semangat. Maka mereka berpaling kepada Yefta. Mereka pun berunding untuk menjadikan Yefta sebagai “komandan” dan menerima dia sebagai “pemimpin” politik mereka, lalu mereka memeteraikan keputusan itu di Mizpa di hadapan Allah.

Yefta dua kali mencoba melakukan perundingan damai dengan suku Amon tetapi gagal. Maka pertempuran tak bisa dihindari. Tanpa alasan yang jelas  Yefta secara mendadak mengucapkan nazar kepada TUHAN: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali… akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.

Pasukan Yefta pun menang. Dengan penuh kegembiraan, ia pulang ke rumahnya, dan lihatlah siapa yang keluar menyambutnya dengan musik dan tari-tarian kalau bukan putrinya yang masih muda – anak tunggalnya! Dan apa yang dilakukan pria perkasa yang gagah berani  ini? Ia bercerita tentang nazarnya dan menyalahkan anaknya mengapa berlari keluar menemui dia – ayahnya – yang sebenarnya pasti akan dilakukan oleh gadis mana pun!

Setelah dua bulan berjalan tak tentu arah dibukit, meratapi  betapa ia tidak akan pernah mengecap pernikahan, gadis tanpa nama itu pun pulang ke rumahnya dan Yefta “melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya” (ay.39), yang berarti menyembelih lehernya, memotong-motong tubuhnya dan mengorbankannya. Dan Allah diam seribu bahasa (tidak seperti tanggapan-Nya di gunung Moria).

Yefta terjebak dalam sebuah dilemma. Haruskah ia melanggar sumpahnya  dan menanggung amarah TUHAN, yang memerintahkan bahwa nazar atau sumpahnya, dan memilih kematian anaknya ketimbang kematiannya?

Dari waktu ke waktu kita temukan diri kita berada diujung sebuah dilemma , dua buah pilihan yang kedua-duanya tidak kita kehendaki. Keputusannya bisa sangat menyedihkan, apalagi bila situasi tersebut dihasilkan oleh tindakan  ceroboh kita. Apa yang sebaliknya kita perbuat? Sebagai makhluk rasional, kita harus mendoakan setiap keputusan yang dibuat, lalu menimbang segala akibatnya, dan memilih yang paling ringan dari keduanya -  namun tentunya pilihan yang paling tidak mementingkan diri sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar