Minggu, 25 Februari 2018

Renungan Pagi 26 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

26   Februari 2018

Protes Gideon

“Jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Dimanakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami…? (Hakim-hakim 6:13)

Kemarin kita telah menyinggung protes dari Gideon ini. Namun persoalan yang diajukan cukup bermanfaat untuk ditelaah lebih jauh. Perhatikan juga sebuah ayat dari Perjanjian Baru berikut ini. “Allah akan memberikan kepadamu segala sesuatu yang engkau minta kepada-Nya” (Yoh. 11:22). Terlepas dari jawaban sebuah doa atau sebuah mukjizat, masalahnya mirip, karena dosa yang kita bicarakan di sini adalah yang mendatangkan mukjizat. Namun berapa banyak orang sakit parah yang Anda doakan, dan secara ajaib sembuh? Hanya satu atau dua? Bagaimanakah dengan yang lain – yang kemudian meninggal dunia?

Mungkin Allah diam karena kita tidak memenuhi kondisi yang diharapkan-Nya. Tapi janji –janji di dalam Yoh. 11:22; 14:13,14; 15:7; 16:23-27; dan Matius 7:7,8 tidak mencantumkan kata-kata jika, dan, ataupun tetapi. Benar, beberapa  kali Yesus mengatakan bahwa iman dari orang yang disembuhkan-Nya itulah yang menyelamatkan, meskipun beberapa dari mereka bukanlah pengikut-Nya. Ia juga berkata bahwa iman sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung (Mat. 17:20). Apakah kita memiliki iman yang lebih kecil daripada yang dimiliki seseorang yang “bukan orang percaya?”

Ada usaha merasionalisasi hal itu dengan mengatakan bahwa Allah menjawab doa kita dalam bentuk (1)ya, (2) tidak, atau (3) tunggu. Pernyataan ini sangat absurd sehingga sering menjadi bahan olok-olok. Bagaimana kita tahu bahwa diamnya Allah berarti “tidak” atau “tunggu”? Karena kita tidak memiliki kontak langsung dengan Allah, pandangan bahwa tidak terpenuhinya sebuah doa sebagai  “jawaban” menjadi sebuah ejekan tentang arti kata “jawaban” itu sendiri, sehingga kita akan terpelanting jauh dari iman ke menipu diri sendiri. Lagi pula, rasionalisasi seperti itu tidaklah Alkitabiah.

Dapatkah kita secara rasional berharap pada mukjizat? Karena Allah menciptakan dunia ini untuk berjalan berdasarkan hukum alam, bolehkah kita berharap  agar Ia, pemelihara alam semesta ini, menginterupsi keteraturannya dengan mukjizat? Tetapi apakah artinya satu mukjizat dalam satu abad atau satu tahun atau sehari? Namun bagaimanakah Allah menentukan mukjizat mana yang harus dilakukan sekali dalam sehari… atau setahun… atau seabad itu yang akan tidak merusak tatanan dunia  tempat kita hidup, belum lagi yang tidak bertentangan dengan kehendak bebas manusia?

Barangkali “solusi” terbaik sebenarnya bukanlah sebuah solusi melainkan sesuatu yang mendamaikan hati. Allah ikut sesak dalam segala kesesakan kita (bdk. Yes. 63:9). Yesus menangis pada setiap pencobaan yang kita jalani seperti Ia menangisi kematian Lazarus.


Barangkali penantian atau Advent yang kedua adalah “solusi terakhir” bagi penderitaan, dan dalam iman kita berpegang teguh pada pengharapan mulia ini.

0 komentar:

Posting Komentar