Kamis, 22 Februari 2018

Renungan Pagi 23 Februari 2018

23   Februari 2018

Wanita Pemberani

“Berikanlah kepadaku suatu hadiah; telah kauberikan kepadaku tanah yang gersang, berikanlah juga kepadaku mata air” (Hakim-hakim 1:15)

Sebelum Musa meninggal, Allah telah menunjuk Yosua untuk melayani sebagai penerusnya. Namun Yosua tidak menerima perintah Ilahi seperti itu, sehingga ia tidak memiliki orang untuk mengantikannya. Kaleb, sahabat Yosua, muncul untuk waktu yang tak lama, dan kitab Hakim-hakim mencatat kemunculan untuk waktu yang tak lama, dan kitab Hakim-hakim mencatat kemunculan pelbagai pemimpin yang datang dan pergi. Inilah waktunya ketika “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hka.17:6).

Pada suatu ketika Kaleb menantang para prajuritnya untuk mengalahkan dan merebut Kiryat-Sefer (Debiri). Ia menjanjikan kepada orang yang berhasil “Akhsa, anakku, menjadi isterinya” (ay.12).

Otniel, adik Kaleb (ay. 13), merebut kota itu. Lalu Kaleb memberikan Akhsa menjadi istrinya. Nampaknya Otniel gembira menerima hadiah itu, tapi dari apa yang terjadi kemudian, kita mendapati bahwa Akhsa yang tidak merasa puas.

Ketika Otniel mendatangi Akhsa, wanita itu malahan mengomelinya mengapa tidak meminta tanah – hadiah yang lebih  berharga ketimbang wanita! Karena Otniel merasa segan untuk menghadap kepada Kaleb, Aksha pun mengambil seekor keledai dan berderap ke tempat ayahnya. Melihat anaknya, Kaleb segera menduga ada yang tidak beres.

Dengan kasar Akhsa berkata, “Telah kauberikan kepadaku tanah yang gersang” dan lanjutnya, “berikanlah juga kepadaku mata air” (Hak.1:15). Kalimat pertama yang dilontarkannya memiliki makna yang kurang jelas dalam bahasa Ibrani, dan dapat berarti bahwa Kaleb telah mencampakkannya seperti sebuah tanah gurun yang murah atau bisa juga berarti Kaleb telah memberikannya sebuah tanah gersang. Apa pun itu artinya Akhsa tidak gembira karenanya. Tindakan ayahnya sendiri telah merendahkannya. Ayahnya memperlakukannya seperti barang tak berharga.

Kaleb dengan tenang menerima keluhan putrinya dan memberikan hadiah yang benar-benar berharga – dua buah mata air, yang, tentu saja, merupakan asset yang sangat berharga di padang gurun yang panas.


Kejadian tersebut merupakan hal yang cukup aneh di sebuah masyarakat patriakal, di mana kaum prialah yang menerima warisan dan memiliki hak berbicara, dan wanita sering dianggap sama dengan harta benda, seperti halnya hewan ternak dan rumah. Akhsa sungguh pemberani! Ia mengatasi ayahnya sebagai kurang sensitive, namun tidak dipermalukan dan sebaliknya mendapat ganjaran  atas karakternya yang berani. Wanita bukanlah anak kecil – yang hanya dilihat tetap tidak didengarkan Allah menginginkan para wanita untuk diberi penghargaan yang tinggi – dan diberi hak untuk bertindak. 

0 komentar:

Posting Komentar