Rabu, 21 Februari 2018

Renungan Pagi 22 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

22   Februari 2018

Pilihan

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).

Yosua memikirkan masa depan Bangsa Israel. Ketimbang terburu-buru menuntut “semua” suku yang telah mereka taklukkan dan “semua” tanah yang mereka kuasai. Yosua mengetahui bahwa mereka memiliki suku-suku tetangga yang menyembah berhala. Karenanya ia mengingatkan bangsa itu: “jika kamu berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kawin-mengawin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu, maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahwa TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu.” (Yos. 23:12, 13).

Allah telah setia kepada perjanjian. Bagaimana dengan mereka?
Setia kepada perjanjian dengan Allah adalah hal yang sangat serius. Demi kebebasan mereka, Allah telah mengeluarkan dari tanah Mesir dan membawa mereka menuju Tanah Perjanjian. Sebagai pengikut-Nya, kali ini tergantung mereka untuk tetap setia kepada perjanjian itu. Melalui Yosua, Allah telah mengingatkan mereka: “Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu Tanami, kamulah yang makan hasilnya.” (Yos. 24:13).

Terserah kepada Bangsa Israel untuk melayani TUHAN dengan tulus dan sungguh. Nenek moyang mereka yang berasal dari Mesopotamia (seperti juga leluhur langsung  mereka  yang berasal dari Mesir) mungkin  saja telah menyembah allah-allah yang lain, tetapi ini adalah saatnya untuk menanggalkan ibadah yang salah tersebut. Pilihan ada ditangan mereka – untuk melayani dewa-dewa orang amori yang disembah di tempat mereka sekarang tinggal…atau TUHAN, Allah perjanjian mereka.

Bangsa itu menjawab, “jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!” (ay.16). namun bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa kelak keturunan mereka tetap menyembah banyak dewa.

Yosua, memainkan peran antagonis, dan berkata: “Tidakkah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN…. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu” (ay.19), secara langsung membantah janji  di Keluaran 34:7.

Tapi bangsa itu teguh pada pendirian mereka: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah” (ay.21).

Apakah kita akan membiarkan materialisme merusak kerohanian kita? Sebagai ahli waris “perjanjian baru” dengan Allah, apakah kita akan memegang teguh janji itu?

0 komentar:

Posting Komentar