Selasa, 20 Februari 2018

Renungan Pagi 21 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

21   Februari  2018

Pembawa Damai

“Allah segala allah, TUHAN, Allah segala allah, TUHAN, Dialah yang mengetahui, dan patutlah orang Israel mengetahuinya juga! Jika sekiranya hal ini terjadi dengan maksud memberontak atau dengan maksud berubah setia terhadap TUHAN – biarlah jangan TUHAN selamatkan kami pada hari ini” (Yosua 22:22).

Kitab Yosua menceritakan perang yang dilakukan oleh Bangsa Israel  melawan orang Kanaan, kemenangan mereka yang penuh mukjizat, dan pembagian daerah yang dikuasai kepada suku-suku Israel. Sembilan dan setengah suku berdiam di sebelah barat Sungai Yordan. Sisanya dua setengah suku tinggal di sebelah timur sungai. (Suku Manasye menempati kedua belah tepi sungai).

“Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu… Dan Yosua pun memberikan negeri itu kepada orang Israel menjadi milik pusakan mereka…. Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang” (Yos. 11:23). Beberapa kali dalam kitab Yosua disebutkan ulang bahwa negeri itu telah berperang.

Karena suku Ruben, suku Gad dan separuh suku Manasye menyeberang kesisi timur Sungai Yordan, mereka tidak memiliki akses langsung ke Silo, di mana kemah suci ditempatkan. Karenanya tak jauh dari tepi sungai, mereka membangun sebuah mezbah yang serupa dengan mezbah korban bakaran di kemah  suci .

Ketika Sembilan setengah suku di sisi barat sungai mengetahui adanya mezbah tersebut, mereka segera saja menjadi binggung. “Saudara” mereka telah mendirikan mezbah tandingan untuk korban. Bukan saja karena ini merupakan sikap murtad, namun dapat membangkitkan amarah Allah yang akan menimpa keduabelas suku semuanya – bukan hanya berakibat pada kedua setengah suku tersebut.

Pinehas, imam besar (yang bertanggung jawab untuk menindak setiap kemurtadan), membentuk satuan tugas yang terdiri dari 10 orang pria. Mereka menuduh saudara-saudara mereka di sebelah timur telah meninggalkan TUHAN: “Apa macam perbuatanmu yang tidak setia ini terhadap Allah Israel, dengan sekarang berbalik dari pada TUHAN dan mendirikan mezbah bagimu, dengan demikian memberontak terhadap TUHAN dan mendirikan mezbah bagimu, dengan demikian memberontak terhadap TUHAN pada hari ini?” (Yos. 22:16).

Wakil dari dua setengah suku itu menjawab dengan tenang bahwa mereka tidak memberontak, dan tidak berniat mempersembahkan korban bakaran di mezbah tiruan itu. Mereka memaksudkan mezbah itu sebagai “pengingat” bagi anak-anak mereka untuk pergi ke Silo membawa persembahan mereka. “Hal itu dipandang baik oleh orang Israel, … dan tidak lagi berkata hendak maju memerangi mereka” (ay. 33).


Sangat mudah membuat kesimpulan dan merasa diri benar lalu menuduh sembarangan kepada orang lain yang, nyatanya, mempunyai niat baik. Keterbukaan sangat perlu dalam hal ini, tetapi kedua belah pihak harus menjelaskan secara gamblang dan jujur. “Berbahagialah mereka yang membawa damai.”

0 komentar:

Posting Komentar