Senin, 19 Februari 2018

Renungan Pagi 20 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

20   Februari 2018

Ada Akhan Di Perkemahan

“Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel” (Yosua 7:1).

Ketika Bangsa Israel menaklukkan kota-kota tertentu, mereka mempersembahkan semua barang jarahan kepada Allah. Orang , hewan, dan benda-benda  yang mereka sebut cherem, sebuah kata Ibrani yang berarti dikuduskan, terlarang, atau ditangkal. Di dalam konteks perang barang jarahan itu dipersembahkan kepada Allah dan dimusnahkan, karena tidak bisa lagi digunakan untuk kepentingan duniawi.

Akhan, salah seorang prajurit Israel yang menyerbu ke dalam kota Yerikho, mengambil beberapa jarahan untuk kepentingan pribadinya – sebuah pakaian dari Shinar, hampir 3 kilogram perak, dan lebih dari setengah kilogram emas.

Setelah serangkaian barang jarahan dimusnahkan, akhirnya giliran Akhan pun tiba, yang diam seribu bahasa sepanjang proses itu. Tertangkap basah, Akhan akhirnya mengakui bahwa ia telah menginginkan sejumlah jarahan – ia telah merampok Allah.

“Kemudian Yosua beserta seluruh Israel mengambil Akhan bin Zerah, dan perak, jubah dan emas sebatang itu, anak-anaknya yang laki-laki dan perempuan, lembunya, keledainya dan kambing dombanya,kemahnya dan segala kepunyaannya, lalu semuanya itu dibawa ke lembah Akhor…. Lalu selurh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api” (Yos. 7:24, 25). Maka penyerbuan selanjutnya ke kota Ai pun berhasil.

Sekarang kita mengatakan bahwa mungkin “ada Akhan diperkemahan” ketika terjadi sesuatu kesalahan fatal di gereja atau lembaga kita. Dan itu menjadi pembenaran untuk mencari adanya “tukang sihir” yang membawa sial, dan sangat sering “tukang sihir” itu dinyatakan bersalah terlepas dari fakta ketidakbersalahan mereka.

Begitu kerajaan Israel terbangun dengan kukuh, dan cherem tidak lagi dipraktikkan, maka tidak ada lagi masalah orang yang menyelewengkan cherem untuk kepentingan pribadi. Karena itu sebenarnya tidak beralasan lagi untuk mencari “Akhan di dalam kemah.”


Yesus sendiri mengajarkan toleransi, bukannya mencari-cari “tukang sihir” yang membawa sial. Gandum dan lalang tidak perlu dipisahkan sampai Allah sendiri yang menghakimi (Mat. 13:24- 30). Setara dengan hal itu, “ikan” yang telah terjaring di kerajaan tidak perlu dipisahkan sampai tiba akhir zaman (ay.47-50). Karena kita tidak hidup di zaman theokrasi seperti di zaman Israel kuno, perumpamaan yang diberikan Yesus nampaknya lebih cocok untuk diteladani ketimbang kisah tentang Akhan. 

0 komentar:

Posting Komentar