Minggu, 18 Februari 2018

Renungan Pagi 19 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

19 Februari 2018

Dikalahkan di Reruntuhan

“Tetapi mereka melarikan diri de depan orang-orang Ai. Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; …. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat” (Yosua 7:4, 5).

Yerikho terhampar di area seluas lebih dari 4 hektar, cukup besar untuk sebuah kota kuno di Timur Dekat. Sebuah tembok batu, dilengkapi menara yang tingginya 25 kaki, mengelilingi kota itu. Bangsa Israel berbaris mengelilinginya satu kali sehari  dan dihari ketujuh mereka berderap mengelilinginya sebanyak tujuh kali. Ketika tujuh orang imam yang membawa tabut perjanjian meniup sangkakala mereka sebanyak tujuh kali dan bangsa itu berteriak bersama-sama, tembok itu pun roboh. Dan para prajurit mengambil alih kota.

Kota itu habis terbakar, dan Yosua mengucapkan sumpah atasnya: “Terkutuklah di hadapan TUHAN orang yang bangkit untuk membangun kembali kota Yerikho ini; dengan membayarkan nyawa anaknya yang sulung ia akan meletakkan dasar kota itu dan dengan membayarkan nyawa anaknya yang bungsu ia akan memasang pintu gerbangnya!” (Yosua 6:26). Terlepas dari kutuk keras ini, kota itu kemudian dibangun kembali, meskipun pada zaman Yesus kota Yerikho tidak berada persis di atas kota yang lama namun tak jauh dari itu.

Dengan kegembiraan yang meluap karena keberhasilan mereka di Yerikho, tidak lama kemudian 3.000 tentara Israel itu berbaris menuju Ai, sebuah kota tidak jauh dari Yerikho. Ai adalah juga sebuah kota pemerintahan kuno, dan pada masa itu meliputi area sekitar 11 hektar – hampir tiga kali luas Yerikho. (Yosua 8:25 melaporkan ada 12.000 orang yang tinggal di kota Ai.) Dengan keberanian menggelisahkan 3.000 penyerbu Israel yang perkasa ini menyerang Ai, tapi segera mundur dengan kekuatan penuh dan lari tunggang-langgang seperti tikus yang ketakutan. Tiga puluh enam prajurit Israel mati dalam serangan yang gagal itu. Yosua, dengan remuk hati, saat itu belajar tentang akibat dari pencurian yang dilakukan Akhan, dan sampai sekarang kita akan menduga “ada Akhan di perkemahan kita” ketika segalanya berlangsung buruk.

Kisah itu sendiri ironis. Pertama, Ai berarti “r(er)untuh(an).” Kedua, pada sekitar tahun 2400 SM kota Ai telah musnah, dan hanya tersisa berupa reruntuhan selama 1200 tahun. Jika data arkeologi ini benar, tidak ada yang tinggal di sana pada saat kota itu ditaklukkan, atau barangkali hanya segelintir orang yang tinggal di sekitar tempat itu. Sekali lagi jika itu benar, maka 3.000 orang Israel itu dibuat kocar-kacir entah oleh siapa di saat mereka menyerang sebuah kota yang hanya tinggal reruntuhan!

Beberapa pelajar Alkitab menemukan bahwa para arkeolog itu telah salah menilai tentang reruntuhan kota Ai. Mungkin saja klaim itu benar adanya. Tapi ada cara lain untuk mengeri kegagalan ini. Tanpa pertolongan Allah, keberhasilan kita sering berakhir sebagai kegagalan – meskipun hanya berhadapan dengan reruntuhan sebuah kota.
/p>  

0 komentar:

Posting Komentar