Sabtu, 17 Februari 2018

Renungan Pagi 18 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

18  Februari  . 2018

Kaki Iman Adalah Kaki Yang Basah

“Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu – sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai – maka berhentilah air itu mengalir” (Yosua 3:15, 16)

Yosua, penerus Musa mengemban dua tugas penting; (1) memimpin Bangsa Israel menuju ke Tanah Perjanjian dan (2) membantu mereka menguasainya.

Yosua dengan cepat menyesuaikan diri dengan posisinya sebagai pengganti Musa, dan Bangsa Israel mematuhinya. Malahan mereka mengatakan: “Segala yang kauperintahkan kepada kami akan kami lakukan dan ke mana pun kami akan kau suruh, kami akan pergi” (Yos. 1:16).

Memakan waktu 40 tahun untuk mendekati Kanaan. Dan dalam tiga hari mendatang mereka akan menyebrangi Sungai Yordan untuk memasuki Tanah Perjanjian. Tujuan akhir sudah di depan mata!

Mereka pun mendirikan kemah di sepanjang tepi sungai. Yosua memberikan perintah kepada rakyatnya: “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yos. 3:5). Ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Bangsa Israel. Sekitar lima mil (+ 8 kilometer) kea rah barat terletak kota Yerikho, sebuah kota yang memiliki benteng paling tua di dunia dan tanah paling rendah di dunia karena berada 825 kaki di bawah permukaan laut. Bangsa Israel harus merebut kota ini terlebih dulu.

Waktunya telah tiba bagi mereka untuk menyeberangi Sungai Yordan. Mereka beruntung karena lokasi yang baik, berada dekat dengan kubu al-Maghtas. Namun mereka kurang beruntung karena waktu yang nampaknya tidak tepat, saat mana sungai sedang meluap karena air hujan dan lelehan salju dari pegunungan.

Ketika semua sudah siap untuk bergerak, para imam berbaris menderap di depan rakyat Israel, yang mengikuti kurang lebih 3.000 kaki (+1kilometer) di belakang. Ketika imam-imam itu berada dekat dengan sungai, air nampak bergemuruh, tapi begitu alas kaki mereka menginjak air yang berlumpur itu, aliran air yang deras itu pun berhenti. Dan setiap orang menyeberang dengan selamat melalui dasar sungai.

Saat kita mengharapkan mukjizat dari Allah, kita harus bertindak untuk menyambutnya. Terkadang mukjizat yang diharapkan tidak terjadi… sampai kita mengambil sikap seolah-olah mukjizat itu telah terjadi. Ya, terkadang kaki iman kaita harus basah terlebih dulu.



0 komentar:

Posting Komentar