Jumat, 16 Februari 2018

Renungan Pagi 17 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

17  Februari  . 2018

Memerlukan Penurutan

“Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, …janganlah engkau takut kepadanya , sebab TUHAN, Allahmu, … menyertai engkau” (Ulangan 20:1).

Menguasai Kanaan tidaklah mudah. Tapi di ayat pembuka Ulangan 20, Allah berfirman: “ TUHAN Allahmu… menyertai engkau” (ay.1), dan diulangi-Nya: “Dialah yang berjalan menyertai kamu” (ay.4).

Kata-kata itu sendiri memberikan rasa tentram bagi jiwa yang resah, dan belakangan di Alkitab kita berjumpa dengan nama Imanuel, yang berarti “Allah  beserta kita.” Ini adalah istilah yang sangat menguatkan. Dan TUHAN berjanji untuk melakukan lebih daripada hanya hadir beserta kita.

Tidak bersedia hanya hadir dan memainkan peran pasif, Allah menambahkan bahwa Ia akan “berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu” (ay.4). TUHAN sendiri adalah pejuang dan di sepanjang Perjanjian Lama kita membacanya sebagai “Allah dari pasukan,” yang mengembara TUHAN sebagai jendral perang yang  memimpin bala tentara surga. Penggambaran dewa perang bukan hal yang baru di Timur Dekat kuno. Dewa-dewa yang disembah oleh suku-suku bangsa di sana sering digambarkan sebagai pahlawan perang. Yang baru adalah ketika Firman Allah menggambarkan Allah Israel  sebagai yang mahakuasa, sebuah atribut yang tidak biasa diterapkan pada dewa-dewa Kanaan, Filistin, dan Mesopotamia.

Meskipun Allah hadir langsung dalam peperangan, tetap saja akan jatuh korban di pihak tentara Israel. Karena itu, Allah memberikan “cuti” kepada (1) Orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya; (2) siapa yang telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya; (3) mereka yang telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya; dan (4) mereka yang takut dan lemah hati. Mengapa Allah mengesampingkan empat kelompok orang ini? Karena mereka kan “mati  dalam pertempuran” (ay.5-7). Oh, dan ada satu alasan lagi, dan ini berkenaan dengan scaredy-cats (gampang takut) – yaitu supaya “hati saudara-saudaranya jangan tawar seperti hatinya” (ay.8).

Menerima tawaran Allah bisa jadi berbahaya. Bahwasanya Ia hadir beserta kita dan berperang di pihak kita tidak selalu berarti terhindarnya kita dari kesulitan. Konflik semesta pasti memakan korban – dan itu tidak terbatas pada pihak yang jahat. Mereka yang membela kebenaran dapat saja kalah dalam peperangan. Tidak sedikit yang harus mengorbankan jiwanya. Meskipun di dunia Barat tidak sering terjadi, di banyak budaya seringkali mereka yang beralih untuk menyembah Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya bukan hanya diasingkan, tapi tak jarang menjadi martir.



0 komentar:

Posting Komentar