Jumat, 16 Februari 2018

Renungan Pagi 16 Februari 2018


Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”



16  Februari  . 2018



Ingatlah Orang Miskin



“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin,… maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu” (Ulangan 15:7).



Kata yang diterjemahkan menjadi “tegar  hati” di ayat 7 memiliki arti asalnya adalah menjadi kuat. Makna dari kata itu adalah melakukan sesuatu dengan menggunakan kekuatan. Dalam ayat ini Musa menasehati Bangsa Israel untuk tidak menguatkan hati sehingga tak tergoyahkan oleh keadaan orang lain.



Selanjutnya Musa melarang umatnya “menggenggam tangan” (menutup telapak tangan) terhadap orang miskin. Sebaliknya “engkau harus membuka tangan lebar-lebar” (Ul. 15:8) untuk memberi pinjaman yang cukup bagi keperluan mereka.



Adanya tahun sabat membuat orang mengabaikan si miskin pada tahun keenam, karena pada tahun berikutnya tanah yang menjad jaminan akan kembali kepada yang empunya dan budak-budak dibebaskan. Pikiran seperti ini hanya menghinggapi orang yang berpandangan picik.



Lebih jauh lagi Musa menyarankan agar kebaikan yang dilakukakn haruslah sebuah kebajikan. Artinya, itu harus bersumber  dari hati yang baik. “Janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi” (ay. 10). KATA BERDUKACITA (KJV) dalam versi Alkitab lainnya diterjemahkan sebagai “menyesal” (NLT), “sukarela” (NRSV), “enggan” (NIV), “tidak menyesalinya” (Tanakh), “kikir”(Message), dan “kecewa” (NET). Namun kata aslinya dalam bahasa Ibrani sering diterjemahkan “jahat” atau “buruk”. Kebajikan itu harus muncul dari niat  yang tulus. Dan si pemberi harus mengingat bahwa mereka dulunya adalah budak di Mesir  dan Allah elah memberi dengan murah hati kepada mereka. Petunjuk ini sangat masuk akal dan merupakan variasi dari hukum emas. Lakukan apa yang telah Tuhan perbuat bagimu.



Para budak Israel – baik pria maupun  wanita – tidak hanya dibebaskan pada tahun sabat, namun harus diberi bekal dengan murah hati. “Engkau harus dengan limpahnya memberi  bekal  kepadanya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu da dari tempat pemerasanmu” (ay.14). pemberi yang menolong orang dengan tulus hati akan diberkati oleh TUHAN(ay. 10). Dan kesempatan untuk memberi tak aka nada habisnya, karena “orang-orang miskin tidak hentinya aka nada di dalam negeri” (ay.11).



Bagaimanakah Anda dan saya memenuhi nasihat Musa ini? Kemurahan hati adalah ciri-ciri orang yang mewarisi perjanjian dengan Allah.


0 komentar:

Posting Komentar