Senin, 12 Februari 2018

Renungan Pagi 13 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

13  Februari  2018

Syarat-Syarat Perjanjian

“Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!” (Ulangan 5:29).

Ketika TUHAN menampakkan Diri di puncak Sinai guna meneguhkan kembali perjanjian-Nya dengan Bangsa Israel, saat itu merupakan situasi yang menakjubkan.

Rudolf Otto dalam bukunya The Idea of the Holy mengatakan bahwa kita bertindak dalam dua cara sekaligus saat berada di hadirat yang Kudus: (1) kita merasa  risih, ingin melarikan diri saja rasanya, dan (2) kita merasa takjub, ingin tetap tinggal. “Kerisihan” muncul dari perasaan aneh terhadap pengalaman itu, sedangkan “ketakjuban” datang dari rasa kagum dengan yang Kudus.

“TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb” (Ul. 5:2). Dan isi perjanjian-Nya adalah Sepuluh Firman, yang diulangi oleh Musa  dalam Ulangan pasal 5. Allah telah mengucapkan kata-kata ini dari dalam api, awan, dan kegelapan. Gentar menghadapi peristiwa supranatural ini. Bangsa Israel meminta Musa untuk menjadi wakil mereka di hadapan Allah.

Perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham, Ishak, Yakub, dan Bangsa Israel meliputi janji-janji yang dibuat oleh-Nya: (1) keturunan yang banyak, (2) tanah, (3) Ia akan menjadi Allah dan mereka menjadi umat-Nya, dan (4) bangsa-bangsa akan terberkati melalui mereka.

Bagian dari pembaruan perjanjian di Gunung Sinai ini mencakup ketentuan  tentang bagaimana Bangsa Israel menghormati TUHAN dan sesama  mereka. Kesepuluh Firman merupaka syarat-syarat Perjanjian itu.

Bangsa Israel, setelah mendengar 10 Firman berjanji untuk mematuhi perjanjian TUHAN. “Engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (ay.27). dengan kata lain, mereka akan menjaga perjanjian mereka dengan TUHAN.

Allah mendengar janji kepatuhan mereka dan berkata, “Segala yang dikatakan mereka itu baik. Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni …berpegang ada segala perintah-Ku” (ay.28,29).

“Perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya di Sinai adalah perlindungan dan pertahanan kita… Perjanjian ini memiliki kekuatan yang sama hari ini dengan saat Allah mengikatnya bersama Bangsa Israel kuno” (The Seventh-day Adventist Bible Commentary, Ellen G. White Comments, jld.1, hlm. 1103).

0 komentar:

Posting Komentar