Minggu, 11 Februari 2018

Renungan Pagi 12 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

12  Februari 2018

Tak Setapak Kaki Pun

“Janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu setapak kaki dari negeri mereka, karena kepada Esau telah Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya” (Ulangan 2:5).

Allah menjanjikan tanah dan keturunan yang banyak kepada Abraham. Allah sebagai Pencipta yang memiliki tanah, tapi Ia membagikannya kepada bangsa-bangsa. “Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa” (Ul. 32:8).

Tetapi tidak semua keturunan Abraham menjadi bagian dari perjanjian itu, yang diperbaharui kepada Ishak dan juga Yakub. Namun TUHAN setia kepada janji-Nya, dan bahkan tetap memberkati keturunan Abraham yang tidak menyembah-Nya.

Contoh, Allah berfirman: “Tentang Ismael, …ia akan Kuberkati, …dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar” (Kej. 17:20).

Tetapi ada tanah khusus yang dijanjikan bagi Abraham dan keturunannya. Jadi ketika bangsa Isreal telah siap menguasai Kanaan, Allah mengejutkan mereka dengan peringatan tentang tanah mana yang boleh dikuasai dan mana yang tidak.

Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk “berjalan melalui daerah saudara-saudaramu, bani Esau” (Ul.2:4), mereka memperingatkan agar bersikap “hati-hatilah sekali”’ (ay. 4). Mengapa? Karena ini bukanlah tanah yang hendak Allah berikan kepada umat perjanjian-Nya. “Aku tidak akan memberikan kepadamu setapak kaki dari negeri mereka, karena kepada Esau telah Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya” (ay.5).

Allah memberikan perintah-perintah serupa mengenai tanah bani Amon (dan Moab), yang merupakan keturunan Lot, keponakan Abraham. “Janganlah melawan Moab dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu apapun dari negerinya menjadi milikmu, karena Ar telah Kuberikan kepada bani Lot menjadi miliknya” (ay.19).


TUHAN berkenan hidup bersama dengan hasil hubungan sumbang (incest) Lot, dari usaha Abraham yang sok tahu untuk memperoleh  keturunan, dan dari sikap congkak Esau terhadap hak kesulungannya. Allah menghormati sumpah-Nya, meski tak selalu nyaman untuk melaksanakannya, dan Ia menghendaki umat-Nya untuk selalu menepati janji. “Apabila seorang laki-laki …mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu’ (Bil. 30:2).

0 komentar:

Posting Komentar