Sabtu, 10 Februari 2018

Renungan Pagi 11 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

11  Februari  . 2018

Keadilan Bagi Semua

“Berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing…. Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan” (Ulangan 16: 16, 17).

Musa membutuhkan bantuan untuk mengatur Bangsa Israel. Karena itu ia memerintah setiap suku untuk memilih satu orang sebagai pembantunya, dan menasihati mereka: “Berilah keputusan yang adil” (Ul. 1:16. Pertama-tama, mereka harus “memberi perhatian” pada penderitaan orang. Kedua, mereka harus “memutuskan.” Kata ini tidak hanya berarti memberi keputusan dan perintah hukum, tetapi juga memberi kebebasan.

Para pembantu itu harus memutuskan dengan “adil.” Tujuannya adalah untuk mengembalikan kehidupan normal seseorang yang tidak bersalah. Panduan kata “memutuskan” dan “adil” merupakan adanya kedamaian (shalom) yang dirusak oleh tindakan seseorang terhadap sesamanya. Jika penuduh memiliki bukti bahwa ia telah dirugikan, maka pengadilan harus mengeluarkan keputusan yang berpihak padanya. Jika si tertuduh ternyata tak bersalah, maka si penuduh harus menerimanya. Hasilnya adalah kembalinya keseimbangan.

Yang terpenting adalah, keadilan seperti itulah yang dilakukan Allah kepada umat-Nya yang bisa kita temukan dalam seluruh Alkitab. Alkitab tidak berbicara tentang Allah yang mendengarkan puji-pujian, meskipun tentunya Ia mendengarkan puji-pujian. Namun tentang Allah yang mendengarkan keluh-kesah umat-Nya dan kemudian memberinya putusan yang adil , keputusan yang mengembalikan kedamaian.

Menurut Musa para pembantunya itu haruslah adil “di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing” (ay. 16). (“Orang asing” yang dimaksud biasanya budak). Terlepas dari siapa penuduh dan siapa tertuduh – apakah masih kerabat atau bukan – hakim harus membuat keputusan yang berpihak kepada yang dirugikan. Para pembantu Musa tidak boleh memandang bulu, “Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan” (ay. 17). Hakim tidak boleh terpengaruh oleh status sosial seseorang. Setiap harus diperlakukan sama.

Akhirnya, Musa memberitahu para pembantunya, “Jangan gentar terhadap siapapun” (ay.17). secara harfiah dikatakan bahwa mereka tidak boleh tertegun melihat wajah orang . wajah sedih dan reaksi yang biasanya emosional dari penuntut ataupun tertuduh tidak boleh mempengaruhi putusan.


Meskipun Musa menujukan untuk 12 orang pembantunya, namun nasihat itu sesuai bagi siapa pun yang masih berhubungan dengan orang lain, yang bagi kita semua. Tujuan setiap keputusan yang kita buat seyogianya mengembalikan kedamaian, dan pengembalian keputusan yang kita lakukan mestilah bebas dari pilih kasih.

0 komentar:

Posting Komentar