Sabtu, 10 Februari 2018

Renungan Pagi 10 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

10  Februari 2018

Rampasan Perang

“Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu” (Bilangan 31:15).

Bangsa Israel mengumumkan perang melawan orang Midian, kerabat jauh yang merupakan keturunan Midian, anak Abraham. Dalam pertempuran itu seluruh orang Midian terbunuh, dan “segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar” (Bil. 31:10) oleh prajurit-prajurit Israel. Jika kita membaca laporan ini secara harfiah, maka yang nampak adalah pembunuhan massal.

Orang-orang Israel itu kembali dengan “harta jarahan,” segala sesuatu yang dianggap telah menjadi milik mereka, dan “rampasan perang” yang diambil sebagai milik bersama. Pasukan Israel pulang ke pangkalan mereka dengan rampasan perang yang mencengangkan: 675.000 kambing; 72.000 sapi; 61.000 bagal; 32.000 anak gadis; dan banyak sekali hiasan, sekitar 190 kilogram emas – yang bernilai lebih dari 95 milyar rupiah (dengan asumsi 500.000 rupiah per gram).

Ketika Musa mengetahuinya, ia menjadi berang melihat wanita dan anak-anak yang di bawa sebagai rampasan perang. Para wanita Moab merupakan sumber penyembahan berhala. Karena itu ia memerintahkan: “Maka sekarang bunuhlah semua  laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.” (ay.17) Ketika tugas itu sudah dilaksanakan, tersisalah 32.000 orang wanita yang masih gadis. Musa lalu memerintahkan sekian persen dari hasil jarahan itu diberikan kepada orang Lewi, yaitu 6.750 kambing, 720 sapi, 61 bagal, dan 32 anak gadis.

Muncul pertanyaan di sini, apa yang Allah kehendaki atas 32 anak gadis tersebut? Dan meskipun Eleazar menerima mereka atas nama Allah, apa yang akan ia lakukan dengan mereka?

Peristiwa ini sungguh pelik. Seluruh kota suku Moab telah runtuh. Pembunuhan telah dilakukan secara massal. Ada 32.000 anak gadis yang dibiarkan hidup, tetapi mereka “dibendakan,” digelandang bak boneka di antara para pria Israel seperti barang jarahan. Apakah dengan keperawanan mereka, penyembahan berhala akan bisa dihindari? Dan, puncaknya, 32 anak gadis diberikan kepada TUHAN!


Sekali lagi – seperti sering terjadi – kita dihadapkan pada unsur manusiawi dari Alkitab. Seperti juga inkarnasi, yang Ilahi menjadi manusia. Firman – yang hidup maupun yang tertulis – menjadi daging Allah melalui alat-alat yang tidak sempurna, termasuk Anda dan saya.

0 komentar:

Posting Komentar