Rabu, 07 Februari 2018

Renungan Pagi 08 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

08  Februari  2018

Efek Bumerang

“Tetapi orang Edom berkata kepada mereka: “Tidak boleh kamu melalui daerah kami nanti kami keluar menjumpai kamu dengan pedang!”’ (Bilangan 20:18).

Utang darah menjadi hal lazim jika nilai-nilai dasar yang berlaku adalah mempertahankan kehormatan dan menghindari rasa malu. Balas dendam adalah cara pamungkas untuk mempertahankan kehormatan. Seorang pria yang tidak membalas dendam akan kehilangan kehormatannya. Dan pada umumnya orang-orang dalam budaya ini memiliki ingatan yang sangat kuat.

Bangsa Israel melanjutkan perjalanan mereka menuju Kanaan, dan salah satu jalan tersingkat adalah melalui daerah suku Edom, Anda ingat, adalah nama lain dari Esau, dan karenanya suku Edom adalah sepupu jauh dari Bangsa Israel. Maka kemudian “Musa mengirim utusan … kepada raja Edom …. “Beginilah perkataan saudaramu Israel: Engkau tahu … bahwa …kami dan nenek moyang kami diperlakukan dengan jahat oleh orang Mesir, bahwa kami berterimakasih kepada TUHAN, dan Ia …menuntun kami keluar dari Mesir. Sekarang ini kami ada di Kadesh, sebuah kota di tepi perbatasanmu. Izinkanlah kiranya kami melalui negerimu; kami tidak akan berjalan melalui ladang-ladang dan kebun-kebun anggurmu dan kami tidak akan minum air sumurmu; …tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sampai kami melalui batas daerahmu” (ay. 14-17).

Permintaan itu nampaknya masuk akal, tetapi jawabannya tidak demikian. “Tidak boleh kamu melalui daerah kami, nanti kami keluar menjumpai kamu dengan pedang!” (ay. 18).

Dan begini tanggapan Bangsa Israel: “Kami akan berjalan melalui jalan raya, dan jika kami dan ternak kami minum airmu, maka kami akan membayar uangnya, asal kami diizinkan lalu dengan berjalan kaki, hanya itu saja” (ay.19).

Lagi-lagi jawaban orang Edom negatif, kali ini dibarengi unjuk kekuatan. Maka Bangsa Israel pun mencuri rute yang lain.

Telah berabad-abad sejak Yakub dan Esau berpisah, tapi orang masih terus mengingat dan bertanya-tanya apakah reaksi suku Edom akan berbeda jika saja Yakub: (1) tidak mengambil keuntungan dan menukar hak kesulungan Esau dengan semangkuk kacang merah; (2) tidak menipu Ishak, dan mencuri berkat yang seharusnya menjadi milik Esau; dan (3) tidak menolak kebaikan Esau dan berpisah dengan sebuah janji palsu. Nampaknya kelicikan Yakub tak mudah dilupakan meski ratusan tahun telah berlalu.

Keturunannya sekarang sedang menerima efek bumerang. Dan siapakah yang bisa secara sepihak menyalahkan suku Edom?


0 komentar:

Posting Komentar