Minggu, 04 Februari 2018

Renungan Pagi 05 Februari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

05  Februari  . 2018

Kemurahan Hati Adalah Tanda Kelemahlembutan

“Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!”

Musa adalah orang yang cerdas. Ia menaati nasihat dari Allah, lalu memilih 70 orang yang dapat berbagi tanggung jawab kepemimpinan. Dan ketekunan yang mencengkram Musa pun hilang Gagasan untuk berbagi tanggung jawab dengan 70 orang membuat tingkat stress Musa menjadi surut.

Tentu saja Musa memercayai 70 orang yang dipilihnya. Tidak ada gunanya ia mempunyai 70 orang pembantu yang tidak dapat melakukan apa-apa. Ia akan kembali frustasi dan 70 orang ditunjuknya hanya akan mendapat bagian amarahnya!

Allah membantunya dengan memberikan Roh-Nya kepada 70 orang itu saat mereka telah berkumpul di kemah suci. “Diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh tua-tua itu” (ay. 25). Sekarang tidak ada lagi pertanyaan kemampuan mereka. Roh yang sama yang menginspirasi Musa, sekarang ada pada mereka.

Dan keragu-raguan yang masih ada pun hilang ketika mereka mengalami “kepenuhan… seperti nabi” (ay. 25). Kata Ibrani untuk “kepenuhan seperti nabi” memiliki banyak ekspresi. Dalam 1 Samuel 19:24 ketika Raja Saul mengalami kepenuhan seperti nabi, ia berbaring telanjang selama sehari semalam. Satu Tawarikh 25:1, 3 berbicara tentang orang-orang yang bernubuat diiringi kecapi, gambus, dan ceracap dengan kata lain: bermain musik. Dalam Yehezkiel 12:27 (dan di tempat lain juga) kepenuhan itu membuat mereka bisa meramal. Yehezkiel  37 menyatakannya dalam konteks memberikan satu perintah. Dalam Yeremia 19:14 berkhotbah.

Ke- 70 orang yang mulai mengalami kepenuhan itu mestinya telah menyebabkan Bangsa Israel terpukau. Tetapi tidak semua. Seorang abdi, Yosua, tetap waspada – bukan untuk dirinya, tetapi demi Musa. Ia mendorong Musa untuk mencegah Eldad dan Medad (dua di antara 70 orang itu yang entah mengapa tidak hadir di kemah suci) dari bernubuat.

Jawaban Musa kepada Yosua menunjukkan harapan dan karakter aslinya “Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” (ay. 29). Ia belum tahu apa yang disebut kecemburuan professional.


Anda lihat, tidak cukup hanya mendelegasikan. Jika kita benar-benar menginginkan ketenangan pikiran, maka kita perlu cukup rendah hati untuk membela semua yang membantu kita. Itulah yang disebut kepemimpinan sejati!.

1 komentar: