Rabu, 28 Februari 2018

Renungan Pagi 01 Maret 2018

Renungan Pagi  “Potret Kasih Allah”

01  Maret  2018

Petualangan  Simson

“Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (Hakim-hakim 16:30).

Simson berjumpa dengan seorang gadis Filistin di Timna yang amat menyukakan hatinya (bdk. Hak. 14:2). Seekor singa menyerangnya saat ia pergi untuk bertunangan, tapi Simson mencabik-cabiknya. Lalu ketika ia kembali untuk menikah dengan wanita itu. Simson melihat lebah bersarang di bangkai singa yang dibunuhnya. Ia pun membuat teka-teki berdasarkan peristiwa itu dan memberi waktu seminggu kepada orang Filistin untuk memecahkannya. Tetapi Simson memberi tahu jawaban teka-teki itu karena bujuk rayu istrinya, yang kemudian membocorkannya kepada orang-orang sebangsanya. Pernikahan itu pun hanya bertahan tujuh hari.

Kemudian Simson pergi ke Gaza, atau tepatnya kepada seorang pelacur di Gaza. Seorang pembunuh diam-diam menunggunya di balik pintu gerbang. Simson pun bangun pada tengah malam dan mencabut pintu gerbang, beserta tiang-tiang dan palangnya, lalu menggotongnya sejauh bermil-mil.

Akhirnya Simson bertemu dengan seorang wanita bernama Delila di Lembah Sorek. Setelah tiga kali mencoba mengorek rahasia kekuatan Simson, akhirnya wanita itupun berhasil mendapatkannya. Maka saat Simson tertidur dengan kepala berada di pangkuan Delila, seorang tukang cukur datang memangkas rambutnya. Simson ditangkap dan matanya dicungkil. Wanita itu mendapat upah 5.500 syikal perak!

Lalu Simson dipaksa bekerja mendorong batu gilingan seperti seekor sapi layaknya. Tapi perlahan-lahan kekuatannya pulih seiring dengan bertumbuh rambutnya. Maka takkala orang Filistin mengadakan pesta pora di Kuil Dragon. Simson meruntuhkan bangunan itu dengan menarik pilar-pilar penyangganya. Tiga ribu orang Filistin mati saat itu, termasuk Simson, yang telah melayani sebagai Hakim Israel selama 20 tahun.

Mengapa ada kisah duniawi yang mendebarkan seperti itu dalam Alkitab? Simson boleh jadi seorang pahlawan yang dahsyat bagi orang dunia, tapi cerita tentang tingkahnya yang diuraikan jelas bukan bacaan yang cocok untuk pria dan wanita yang sudah bertobat!

Seorang imam Katolik Roma Andrew M. Greeley, menulis novel tentang imam-imam yang mempertunjukkan “kekuatan” moral dan etika mereka dengan perzinahan, hubungan sumbang, dan perilaku asusila. Alasannya menulis novel-novel yang menyeramkan seperti itu, yang disebutnya buku-buku “religious”, barangkali serupa dengan alasan direkamnya kisah Simson di dalam Kitab Suci. Greeley mengatakan bahwa novel-novelnya “dianggap sukses” jika para pembacanya bisa belajar Allah dapat “menarik lurus dengan garis yang lengkung.”


Allah, dengan kasih karunia-Nya, dapat mengubah garis lengkung yang kita tarik dalam hidup yang penuh noda ini menjadi garis lurus – seperti yang diperbuat-Nya kepada Simson yang moralnya kurang terpuji.

0 komentar:

Posting Komentar