Minggu, 21 Januari 2018

Renungan Pagi 22 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

22  Januari 2018

Sepuluh Firman

“Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN emapt puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yaitu Kesepuluh Firman” (Keluaran 34:28).

Alkitab menyatakan bahwa Sepuluh Firman adalah perjanjian antara Allah dengan Bangsa Israel. Orang Kristen menyebutnya hukum moral – kehendak Allah yang berlaku universal. Untuk itu mari kita lakukan survey untuk melihat apakah benar Sepuluh Firman itu berlaku universal, mengatasi perbedaan waktu dan budaya.

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung…. Jangan sujud menyembah kepadanya” (Kel. 20:3-5). Ayat-ayat ini mengatur soal penyembahan, dengan penekanan pada kedaulatan TUHAN dan menentang segala berhala. Untunglah Sepuluh Firman tidak mengatur lebih spesifik, misalnya dengan memerintahkan untuk mempersembahkan seekor anak domba. Lalu apa yang harus dipersembahkan oleh orang Eskimo, yang hanya mengenal anjing pemburu, anjing laut, singa laut, lumba-lumba, dan beruang kutub? Bagaimana orang-orang Papua New Guinea dan Amazon melakukan penyembahan? Mereka tidak pernah mengenal kambing  atau domba atau kerbau.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: … jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (ay.8-10). Untunglah di sini tidak diperintahkan penyembahan di Mosaik kemah pertemuan atau bait suci. Bila demikian bagaimana cara orang yang tidak tinggal di Yerusalem menguduskan Sabat? Perintah keempat juga tidak mendefenisikan arti pekerjaan. Apakah yang dimaksud kerja? Apakah mandi itu bekerja? Apakah menggosok gigi atau mencuci piring termasuk pekerjaan? Perintah ini juga cukup tidak spesifik sehingga dapat diterapkan di mana saja.

“Jangan membunuh” (ay.13). kata Ibrani yang diterjemahkan “membunuh” di sini selalu digunakan dalam arti membunuh manusia – pembunuhan yang direncanakan atau tidak. Untung perintah ini tidak diperluas menjadi pembunuhan setiap makhluk hidup. Bila demikian, kita tidak akan bisa mengemudikan mobil, karena banyak sekali serangga yang membentur kaca depan dan mati. kita pun tidak dapat menyemprotkan obat nyamuk karena akan melanggar perintah ini.

Kesepuluh Firman berlaku umum karena perintah-perintahnya tidak memperinci apa saja tindakan yang dilarang. Misalnya, budaya lokal harus menentukan apa arti pekerjaan, pembunuhan, pelacuran, dan perampasan milik orang dan juga apa artinya menghormati orang tua.

Karena sifatnya yang umum itulah Sepuluh Hukum dapat diterapkan secara universal. Sebab tindak tanduk yang dilarang itu harus didefenisikan menurut budaya masing-masing. Sepuluh Hukum memberikan banyak ruang yang cukup luas bagi kita untuk mendefenisikan, dan dengan demikian menyajikan bagi kita sebuah potret hikmat dan  kemahatahuan Allah.


0 komentar:

Posting Komentar