Rabu, 17 Januari 2018

Renungan Pagi 18 Januari 2018



Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

18  Januari 2018

Nabi Yang Peragu

“Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya padaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Keluaran 4:1)

Musa berada dalam suasana berdebat.
Musa: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel. 3:11). Allah: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? (ay.12). Musa: “Mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya” (ay.13). Allah: “Begini kau katakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (ay.14).

Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku” (Kel.4:1). Allah: “Apakah yang di tanganmu itu ?” (ay.2). Musa: “Tongkat” (ay.2). Allah: “Lemparkanlah itu ke tanah” (ay.3). Maka tongkat itu menjadi ular. “Masukkanlah tanganmu ke dalam bajumu” (ay. 6). Maka tangannya kena kusta.

Musa: “Ah, Allah, aku ini tidak pandai bicara” (ay.10). Allah: “Siapakah yang membuat lidah manusia?” (ay. 11). Musa: “Ah, Allah utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus” (ay.3). Allah: “Harun, orang Lewi itu,…akan menjadi penyambung lidahmu” (ay.14-16).

Dan Yitro, mertua Musa, berkata, “Pergilah dengan selamat” (ay.18).
Allah pun menang…pada akhirnya.

“Kemudian Musa mengajak istri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir, dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya.” (ay. 20). Musa dan Harun bekerja sama menjelaskan kepada Bangsa Israel bagaimana kehendak Allah untuk membebaskan mereka. “Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi… “’ (Kel. 5:1).

Berdebat dengan Allah rupanya bukan suatu kejahatan. Abraham berdebat dengan-Nya mengenai Sodom. Yakub bergulat dengan Allah di Yabok. Musa bersilang pendapat dengan Allah di sini, dan nanti saat Allah hendak memutuskan Bangsa Israel. Maria dan Marta pun mengomel pada Yesus.

Kita harus jujur terhadap Allah. Ia mengetahui apa yang menjadi kata hati kita yang paling dalam, karenanya mengapa tidak terbuka saja? Kita tak bisa menyembunyikan maksud hati kita dari Allah yang mahatahu! Alkitab memotret kasih Allah yang menghargai keterusterangan. Doa adalah percakapan dengan Allah sebagai sahabat, dan acap kali terjadi perdebatan antara sahabat Allah mengharapkan kerterbukaan dari para sahabat-Nya.

Jika kita terbuka dengan dan kepada Allah. Ia pun terbuka dengan  dan kepada kita.

0 komentar:

Posting Komentar