Selasa, 16 Januari 2018

Renungan Pagi 17 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

17  Januari 2018

Sesuai Kehendak Allah

“Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir” (Keluaran 3:10).

Di kalangan para penginjil, kita sering mendengar ungkapan “sesuai kehendak Allah.” Ungkapan itu mengandung pengertian bahwa sejak kekekalan Allah telah memiliki kehendak atas segala sesuatu yang akan terjadi, dan orang Kristen mesti berusaha untuk mengetahui apa yang dikehendaki-Nya dan hidup seturut dengannya.

Apakah seseorang menganut Calvinisme ataupun Wesleyanisme, buah usaha mencari kehendak Allah tersebut hanya berujung pada rasa frustasi. Bagaimana aku bisa mengetahui apa kehendak Allah sebenarnya bagiku? Apakah aku dapat terus menerus hidup sesuai kehendak Allah?

Tapi tunggu dulu! Ada sudut pandang lain, yang menentramkan. Karena Allah itu tak terbatas dan mahabijaksana, ia tidak akan membatasi tindakan kita – terutama bila kita terbuka untuk berkat-Nya. Allah cukup kreatif untuk mencapai tujuan-Nya bahkan jika kita menuruti kehendak bebas kita dengan cara-cara yang jauh dari sempurna.

Itulah cara-cara yang ditempuh oleh Musa.  Selama 40 tahun pertama dalam hidupnya, ia menyerap gaya hidup orang Mesir. Ia tumbuh dewasa di istana Firaun. Ia menguasai bahasa Mesir. Ia mengetahui adat istiadat setempat. Ia mempelajari tata krama kerajaan. Ia adalah orang dalam istana. Ia mengetahui cara untuk menarik perhatian Firaun. Meminjam kata-kata Mordekhai di kemudian hari kepada Ester (Est. 4:14). Musa boleh berkata, “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini aku datang ke kerajaan ini?”

Jika ia naik takhta, maka ia dapat dengan mudah membebaskan orang Israel dari kerja paksa. Kalau pun ia tidak menjadi Firaun, asalkan tetap bertahan di istana, sebagai orang dalam ia dapat melicinkan jalan bagi pembebasan orang Israel dari Mesir, tanpa pertumpahan  darah dan dengan restu orang Mesir.

Tetapi Musa dengan gegabah telah membunuh seorang Mesir dan harus melarikan diri selamanya. Sekarang ia tidak bisa lagi menjadi Firaun untuk membebaskan orang Israel. Tidak dapat lagi menjadi orang dalam untuk membantu pembebasan bangsa Israel. Dan untuk 40 tahun berikutnya Musa belajar sebagaimana menggembalakan domba. Barangkali, ketika Allah mengirimnya kembali ke Mesir, pengalaman 40 tahun yang dimiliki sebagai orang dalam istana dapat dimanfaatkannya, namun Allah harus membawa keluar bangsa Israel dengan cara lain.


Apa pun caranya. Musa akan melakukan sesuai kehendak Allah. Begitu pula Allah dapat bekerja sesuai keputusan kita, dan menemukan cara agar hal itu sesuai dengan rencana-Nya. Kehendak Alllah dapat bekerja sama dengan kehendak manusia untuk hasil yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar