Senin, 15 Januari 2018

Renungan Pagi 16 Januari 2017

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

16  Januari 2018

Semak Yang Terbakar

“Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Keluaran 3:5).

Ketika Musa, si buronan itu, tiba di tanah Midian, ia berhenti di sebuah sumur. Ia memiliki dua alasan untuk itu: (1) ia kehausan setelah melarikan diri melalui padang pasir, sehingga perlu menghilangkan hausnya, dan (2) sumur adalah tempat berkumpulnya penduduk setempat, dan tempat yang tepat untuk bertemu mereka.

Setelah membela tujuh putri  seorang imam Midian dari pelecehan yang terjadi di sumur, Musa diundang oleh imam itu ke rumah mereka. Musa menerima tawaran itu, dan menikahi Zipora, salah seorang putri Yitro. Musa pun tinggal di Midian selama 40 tahun, menggembalakan domba-domba milik mertuanya.

Ketika bersama-sama dengan kawanan dombanya di padang belantara, Musa tiba di Horeb “gunung Allah” (ay.1), nama lain dari gunung Sinai. Di sanalah ia melihat semak duri menyala. Ketika ia mendekati keanehan itu, disadarinya bahwa api tidak membakar semak itu.

Lalu Allah berbicara dari dalam api, menyuruh Musa melepaskan kasutnya sebelum menginjak tanah yang kudus Allah pun memperkenalkan Diri-Nya: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” (ay. 6). Lalu Musa melepaskan kasutnya dan bersujud hingga mukanya menyentuh tanah.

Apakah menurutmu yang membuat tempat itu kudus? Apakah tanah berbatu itu kudus sebelum api menyala? Apakah tanah itu tetap kudus setelah Allah pergi dari sana dan api itu padam? Ketahyulan mengajarkan bahwa beberapa tempat memang suci dan bangsa Timur Dekat kuno memiliki banyak tempat seperti itu.

Dalam Kitab Suci sesuatu menjadi kudus ketika itu diasingkan untuk maksud religious. Setelah upacara penyerahan (kepada Allah), seseorang, suatu tempat, atau suatu benda yang biasa-biasa saja, menjadi suci. Tetapi kita dapat menarik pelajaran dari Alkitab tentang “sebab” lain dari kekudusan. Sesuatu yang tadinya tidak suci dapat menjadi suci ketika Allah hadir di sana. Sebagai contoh, kemah pertemuan, yang dibuat oleh Musa, menjadi semua “kemah suci” – tempat yang suci – ketika kemuliaan Allah menaungi tabut perjanjian itu.


Itulah mengapa seseorang disebut “santo,” orang kudus. Orang Kristen menjadi kudus bukan karena mereka telah dipisahkan untuk tujuan religious atau karena mereka tidak berdosa, tapi karena Roh kudus berdiam di dalam mereka. Dan itu berarti termasuk Anda… dan saya!

0 komentar:

Posting Komentar