Minggu, 14 Januari 2018

Renungan Pagi 15 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

15  Januari 2018

Si Pelaku

“Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir” (Keluaran 2:12).

Sebagian orang adalah pemikir, sebagian lainnya, pelaku. Hanya dalam beberapa menit para pemikir dapat memikirkan gagasan-gagasan yang akan mempesona kita. Nyatanya, keuntungan dari suatu usaha diperoleh  dari munculnya produk-produk baru dan cara-cara inovatif untuk menyakinkan orang agar membeli. Dalam hal ini gagasan sangat penting.

Tetapi bagaimankah caranya sebuah perusahaan merancang dan memperoduksi produk baru serta menyiapkan rencana promosi dan marketing? Para pelaku membuatnya menjadi kenyataan. Namun pelaku terkadang menghadapi masalah, atau bahkan membuat masalah. Konon para pelaku ini tidak memiliki jari kaki, karena mereka sudah menaruk pelatuk bahkan sebelum mereka mengeluarkan pistol dari sarungnya. Mereka kerap menembak jari kaki mereka sendiri!

Musa adalah seorang pelaku. Pada usia 40 tahun, ia berkeliling ke darah Mesir tempat orang Israel melakukan kerja paksa, “lalu dilihatnya seorang Mesir memukul seorang Ibrani” (ay. 11). Sebetulnya itu adalah hal yang biasa. Budak diciptakan untuk dipukuli! Ada saatnya anak sekolah dipukul supaya mereka “belajar.” Seorang penulis Mesir bernama Wenemdiamun berkata kepada gurunya, “Ketika engkau memukulku; ajaranmu sampai ketelingaku.” (Papirus Lansing). “Memukul seorang anak lelaki seperti memberi pupuk pada kebun” (Aramaic Proverbs of Ahiqar [versi Syria]).

Amarah Musa meledak. “Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir” (ay.12). Seperti yang biasa dilakukan oleh para penjahat, Musa pun mengunjungi lagi tempat kejahatannya itu, dan melihat dua oarng Israel sedang berkelahi. Musa menegur orang yang memulai perkelahian, “Mengapa engkau pukul temanmu?” (ay. 13).

Jawaban orang itu mengejutkan Musa karena menyadari bahwa meskipun ia sudah berhati-hahti kemarin, seseorang telah menyaksikan pembunuhan itu: “Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” (ay.14), dan hanya orang Ibrani pemarah itu saja yang mengetahui perbuatan Musa. Entah bagaimana, berita itu sampai ke telinga Firaun, yang tanpa pandang bulu menjatuhkan hukuman mati padanya. Maka pergilah Musa meninggalkan Mesir, dan menetap di padang Midian (ay. 15).


Ya, Musa adalah seorang pelaku. Seperti umumnya pelaku, ia dapat bertindak gegabah, namun dalam ketergesaannya itu ia menyelesaikan masalah! Allah nampaknya menyukai para pelaku. Ia memilih mereka untuk bekerja  untuk-Nya. Jika Anda seorang pelaku, Allah pasti punya tempat untukmu, tetapi berdoalah agar Ia mengendalikan ketergesaanmu.

0 komentar:

Posting Komentar