Selasa, 09 Januari 2018

Renungan Pagi 10 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

10 Januari 2018

Pejuang Doa

“Engkau telah bergumul melawan Allah…, dan engkau menang” (Kejadian 32: 26).

Yakub kembali ke Kanaan dari Haran dan bertemu dengan Esau, dan ia sungguh ketakutan! Pikiran akan bertemu dengan kakaknya dalam waktu dekat, mendorongnya untuk bertelut – akan baik bagi Yakub dan juga bagi kita apabila kita bicara dengan Allah bukan hanya di saat sedang ketakutan.

Dalam kegalauannya Yakub memohon kepada Allah, “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung” (ay. 11,12).

Setelah berdoa Yakub membagi rombongan keluarganya menjadi dua, dan mengirim mereka ke seberang sungai Yabok, sedangkan ia bermalam sendirian di tepi sebelah sungai itu. Ketika hari gelap dan Yakub merasakan ada seseorang di dekatnya, ia pun menyerang penyusup itu. Mereka bergulat sepanjang malam. Bergantian seorang di atas yang lain, saling menelikung, balas mengunci, menindih, dan seterusnya.

Menjelang fajar, Allah akhirnya membiarkan Yakub menang, yang kemudian berkata dengan takjub. “Aku telah melihat Allah berhadapan muka” (ay. 30).

Apa pendapat kita tentang pertarungan tak seimbang dengan Allah yang dimenangkan Yakub yang berusia 97 tahun itu? Tentunya banyak yang bisa kita katakan.

Saya sendiri memandang perjumpaan itu sebagai sebuah ironi. Pertama ,Yakub telah bertemu dengan malaikat-malaikat (ay. 1). Kedua, ia memohon pertolongan. Dan ketiga, Allah muncul sendiri di hadapannya. Apakah Anda pernah melihat Allah dalam wujud manusia seperti itu setelah Anda berdoa memohon pertolongan-Nya? Saya rasa tidak. Namun itulah yang terjadi dalam kisah ini.

Dan apakah Yakub menyambut kehadiran Allah? Tidak. Ia malah mengajak Dia berkelahi, dan mendapat sebutan pejuang doa. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai istilah itu karena terkesan seolah-olah kita mesti memaksa Allah dalam doa-doa kita. Yakub, si pejuang doa yang pertama, bergulat dengan Allah… dan menang! Tetapi sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu. Allah datang sebagai jawaban atas doanya.

Beberapa kali kita tidak menyadari jawaban Allah atas doa-doa kita dan bahkan tidak mengakuinya sebagai berkat?


0 komentar:

Posting Komentar