Jumat, 05 Januari 2018

Renungan Pagi 06 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

06 Januari 2018

Hampir Taat
“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya” (Kejadian 12:4).

Terah, seorang penyembah berhala (Yos. 24:2,14), tinggal di Kaldean Ur-pusat penyembahan Sin, dewa bulan. Karena Alasan tidak diketahui. Terah memutuskan untuk pindah bersama seluruh keluarganya ke Kanaan (Kej. 11:31). Namun perjalanan hijrah itu tertunda ketika mereka mencapai Haran ibukota Mesopotamia, yang juga sebuah pusat pemyembahan dewa bulan. Ketika berada di sana, Terah meninggalkan pada usia 205 tahun (ay. 32).

Setelah kematian ayahnya, Abram menerima petunjuk langsung dari TUHAN. Abram harus melakukan tiga hal, dan Allah akan melakukan 5 hal. Abram harus (1) pergi dari tanah kelahirannya, (2) meninggalkan kaum kerabatnya, dan  (3) meninggalkan rumah tangga warisan Terah, Allah akan (1) membimbing Abram ke tanah yang baru, (2) membuat keturunannya menjadi bangsa yang besar, (3) memberkati Abram, (4) membuat namnya masyhur, (5) memberkati kawan Abram dan mengutuk musuh Abram (Kej. 12:1-3).
 Abram harus menanggalkan kebangsaannya, sukunya, dan gaya hidup mewahnya. Ia harus melepaskan semua hal yang berada di dekatnya dan disayanginya.

Abram membuat rencana seperlunya, mengepak semua barang miliknya, dan pada usia 75 tahun memulai perjalanan 450 mil menuju Kanaan. “Ini adalah perjalanan pertama yang dilakukam oleh manusia dengan sekarela” (David. W. Cotter, Berit Olam, Genesis, hlm. 89).

“Pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya” (ay. 4).  Tapi tunggu dulu! Ternyata ada yang kurang beres di sini. Meskipun kepergian Abram Nampak seolah-olah selaras dengan perintah TUHAN, Abram tidak patuh secara total. Bagian selanjutnya dari ayat ini mengatakan bahwa “Lot pun ikut bersama-sama dengan dia” (lihat juga ay.5). anda tahu bahwa Lot adalah sepupu Abram yang sudah tidak memiliki ayah, yang juga memiliki kawanan ternak yang besar. Abram tidak meninggakalkannya bersma seluruh kerabat lainnya, seperti yang diperintahkan Allah.


Ini adalah pertama kalinya Abram secara terbuka tidak patuh kepada TUHAN dan bersandar pada pengertiannya sendiri. Namun Allah tetap setia kepada Abram\Abraham. Meskipun kesetiaan selama 100 tahun perjalanan menuju Kanaan terhitung tidak sempurna, ia dan Allah menjadi sangat akrab sehingga di kemudian hari ia dijuluki “Sahabat Allah” (Yak. 2:23, Taw 20:7), Yes. 41:8). Demikian pula kita yang mecintai Yesus dapat yakin bahwa Allah adalah sahabat kita (Yoh. 16:27; kata yang dipakai di sini adalah phileoi, yang artinya “kawan”)-meskipun kita banyak memiliki kelemahan.

0 komentar:

Posting Komentar