Kamis, 04 Januari 2018

Renungan Pagi 05 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

05 Januari 2018

Kabar Buruk

“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" (Kejadian 3:9).

Kitab Suci menyebut taman di mana Allah menempatkan Adam dan Hawa “Firdaus,” yang berarti “kesenangan.” Rumah baru mereka ini sangat terberkati, sampai… mereka di perdaya oleh si ular, dan Hawa memakan buah terlarang dan melanggar satu-satunya larangan di taman kesenangan itu. Dan ketika ia berbagi buah itu dengan suaminya, Adam pun mencicipinya.

Hal yang sangat kecil-segigit buah! Namun tak sebanding dengan “ukuran” pelanggaran mereka, pasangan suami istri pertama ini langsung dicekam perasaan bersalah, yang diikuti oleh serangkaian akibat yang aneh-bahkan luar biasa.

Pertama, mereka tiba-tiba tersadar atas ketelanjangan mereka. Dari mana kah mereka mendapatkan pemikiran bahwa telanjang sesuatu yang tak pantas? Padahal kondisi seperti itu selama ini, setidaknya mereka sudah tahu.

Kedua, ketika Allah datang berkunjung, mereka bersembunyi di pepohonan
Ketiga, ketika Ia bertanya apa yang telah mereka lakukan, tak ada seorang pun yang mau bertanggung jawab. Adam menunjuk Hawa, yang diberikan Allah kepadanya, sebagai pembuat masalah. Hawa pun bertahan dan mengatakan bahwa itu salahnya si ular

Keempat, setelah Allah membuatkan mereka baju dari kulit bintang, keputusan pun dibuat, dan Allah mengahalau mereka dari Firdaus (ay. 24). Kata kerja “menghalau ini diguniakan juga di tempat lain untuk menggambarkan tetabuhan yan menghalau orang Hewi (Kel. 23:28). Jelaslah bahwa pasangan itu tidak pergi dengan kemauan sendiri!
Kelima, setelah ketidaktaatan mereka, Allah merasa perlu menempatkan kerubim untuk “menjaga jalan ke pohon kehidupan” (Kej. 3:24) sehingga Adam dan Hawa tidak bisa menyelinap kembali ke taman dan mendekati pohon kehidupan.
Keenam, setelah Kian dan Habel dewasa, Kain membunuh Habel dalam kemerahannya. Dan di zaman Nuh, Allah melihat manusia “segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kej. 6:5).
Saya tidak habis pikir, betapa manusia dapat menjadi rusak total secepat itu. Sungguh suatu rangkaian akibat yang tidak sepadan dengan pelanggaran yang terjadi. Namun setiap kali kita menonton berita, akibat kejatuhan manusia sangat jelas; kejahatan yang merajalela seringkali menjadii alasan bagi orang untuk mempertanyakan keberadaan Allah!

Syukurlah, Allah tidak serta-merta melaksanakan hukuman mati bagi umat manusia. Sebaliknya, Ia menyiapkam suatu “rencana keselamatan.” Dan itu sungguh kabar baik!

0 komentar:

Posting Komentar