Senin, 01 Januari 2018

Renungan Pagi 02 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

02 Januari 2018

Allah adalah Kebenaran Asli Kita

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)

Bila kita mulai membaca Firman Allah, kita akan menemukan bahwa para penulisnya berasumsi Allah itu ada. Tidak ada diskusi filosofis tentang penerus mereka. Apa yang kita temukan adalah pengertian mendalam tentang Allah Israel yang dikenal sebagai YHWH (di dalam Alkitab bahasa Indonesi diterjemahkan sebagai TUHAN). Alkitab bagaikan sebuah album potret kasih Allah yang diabadikan oleh para penulisnya. Beberapa potret itu lebih jelas daripada yang lain, akan tetapi semuanya membantu kita untuk mengenal siapa Allah.

Ya, para penulis Alkitab memandang keberadaan Allah sebagai suatu kebenaran. Apa yang mereka katakana-dan kerjakan- didasarkan pada gagasan bahwa Allah itu ada (Begitu pula yang dilakukan oleh orang percaya, termasuk para pembaca renungan harian ini.) Allah bagi orang-orang Yahudi kuno itu- dan bagi kita juga-adalah apa yang disebut oleh para filsuf sebagai “kebenaran asli”. Dan dalam kehidupan sehari-hari kita, seperti halnya para penulis itu, hidup dalam hadirat-Nya.

Selain menyatakan keberadaan-Nya, ayat pembuka Kitab Suci menyatakan bahwa Dia menciupta. Kita semua tahu betapa para ilmuwan dan ahli teologi meghabiskan waktu mereka untuk berdebat tentang kapam dan bagaimana planet bumi ini terbentuk. Tetapi bahkan para pelajar Alkitab yang disebut “evolusionis” pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta.

Apa pun makna yang terkandung dalam pengakuan kita bahwa Allah adalah Pencipta, tersirat di dalamnya suatu hubungan yang erat antara kitan dan lingkungan. Keberadaan kita saling bergantung satu sama lain. Kita bukanlah pencipta. Tidak satu pun penghuni bumi ini yang menciptakan lingkungan, dunia, dan semesta tempat kita hidup. (Setelah semuanya tercipta, barulah kita bisa membuatnya menjadi baik atau buruk, dan mengubahnya menjadi lebih baik atau lebih buruk bahkan menjadi tempat yang membahayakan.)

Kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta membantu kita untuk melihat diri apa adanya. Di satu sisi kita boleh menyimpulkan betapa kita sangat berharga, karena Allah sendiri yang menciptakan kita. Di sisi lain, kita pun mengakui bahwa kita sama sekali tidak mandiri! Kita tidak menciptakan ataupun menghidupi diri sendiri. Seperti dikatakan Rasul Paulus kepada penduduk Athena: “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita tidak ada” (Kis, 17:28) Allahlah-bukan Anda atau saya-sang Pencipta. Mari kita bersukacita!


0 komentar:

Posting Komentar