Sabtu, 30 Desember 2017

Renungan Pagi 31 Desember 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

31  Desember  2017

Masalah Kepercayaan

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” (Ibrani 10:35)

William Cummins Davis, pengkhotbah Amerika terkemuka sejak awal 1800-an, adalah salah satu dari banyak pejabat gereja pada zamannya, setelah mempelajari nubuatan 2.300 hari dalam Daniel 8;14, berkhotbah dengan semangat tentang pengharapan kedatangan Yesus dan akhir dunia di pertengahan tahun 1840-an. Perhitungan Davis secara spesifik dinyatakan dalam syair berikut ini:
“Pada tahun 1847 kita dapat berharap
Untuk menemukan dunia tanpa seorang paus
Ketika 30 tahun lebih mengusir Setan,
Kita akan menemukan dunia tanpa Setan;
Tambahkan tiga tahun lebih dan 42 tahun,
Kita akan menemukan dunia tanpa orang Yahudi;
Paus, dan Setan, tidak dikenal lagi;
Sampai 1000 tahun adalah bagian kita;
Yahudi dan bukan Yahudi sekarang sudah sama,
Bersukacitalah memakai nama Kristen;
Fajar yang mulia tahun 1847,
Akan memperkenalkan bumi dan langit baru”
-L.E. Froom, The Prophetic Faith of Our Fathers, jld.4, hlm. 222.

Tetapi hal itu tidak terjadi untuk Davis, dan itu tidak terjadi untuk generasi orang percaya yang telah berharap dengan penuh semangat.

Bagaimanakah kita menjelaskan penundaan ini? Hal pertama yang kita lakukan adalah mengingat bahwa cara pandang Allah tentang waktu berbeda dengan cara pandang kita. Seribu tahun untuk Dia “terasa seperti kemarin,” dan sebuah “millennium dari millennium” lebih kurang seperti kecepatan cahaya menyinari cakrawala saat badai di waktu malam.

Kedua, hal itu terjadi sebagaimana kita mengerti bahwa ketika semua manusia mati-terlalu cepat bandingkan dengan kekekalan, dan karena pekerjaan pertama setelah kebangkitan yaitu memerintah bersama Kristus-bahwa kita semua menganggap kedatangan kedua kali-Nya segera dan “amat segera.”

Dan ketiga, kita melakukannya dengan mengingat bahwa semua janji Allah adalah bersyarat dan bahwa hingga saat ini Dia belum datang, bukanlah berbicara tentang kesetiaan-Nya, tetapi pernyataan tentang kebutuhan kita untuk berserah sepenuhnya kepada “sesuatu yang lebih baik” dari kasih-Nya yang tidak terbatas itu.

0 komentar:

Posting Komentar