Rabu, 27 Desember 2017

Renungan Pagi 28 Desember 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

28  Desember  2017

Zebulon, Yusuf, dan Benyamin

“Dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu” (Wahyu 7:8).

Salah satu kelemahan Zebulon adalah suka mengembara, keterangan yang disebutkan oleh Musa untuk menggambarkan suku ini yaitu “pergi keluar” (Ul. 33:18). Kekuatan mereka adalah keberanian ; mereka memperlengkapi diri mereka seperti prajurit. Mereka berdiri bersama  Barak saat dalam permasalahannya dengan Sisera; bersama Gideon melawan Midian, dan bersama Daud melawan Saul. Sejarah mereka, bagaimanapun, ternoda oleh kecendrungan yang melemahkan yaitu mengembara.

Yusuf juga merupakan salah satu dari nama yang tertulis di gerbang surga. Selain apa yang mungkin dipandang sebagai sentimentalitasnya yang berlebihan (perhatikan tangisannya yang berulang-ulang; Kej. 42:24; 43:30; 45:2, 14; 46: 29; 50:17), Alkitan tidak mencatat kelemahan Yusuf. Namun, ketidakcakapan dalam upaya membesarkan anak karena mengacu dari kenyataan bahwa garis keturunannya termasuk sedikit, jika ada, keturunannya pasti luar biasa.

Benyamin, anak bungsu dari anak-anak Yakub, seorang bapa yang murah hati dan berbakat namun kelemahannya adalah keras kepala dan berprasangka buruk. Begitu keras kepala dan semangat yang tidak berguna, pada satu kesempatan, pergi sejauh mungkin untuk berperang melawan 11 suku lainnya – dan dengan akibat yang mengerikan (Hak. 20). Dengan memasukkan nama mereka  pada pintu gerbang adalah merupakan bukti dari kasih saying dan panjang sabar Allah kita.

Perlu diperhatikan bahwa ada dua nama dari “suku-suku yang berkemah” tidak dituliskan pada gerbang surga  yaitu: Dan, seorang yang suka menipu dan mengkritik sehingga Yakub menggambarkan sebagai ular beludak (Kej. 49:17), dan Efraim, terkenal dengan penyembahan berhalanya (Hosea 4:17).

Pelajarannya disini sangat jelas. Bahwa sementara kasih karunia Tuhan tidak  berkesudahan, dosa kecil yang sepertinya melepaskan orang berdosa kepada pertobatan adalah kemunafikan dan ibadah palsu. Tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni, tetapi sejarah membuktikan, bahwa kedua dosa itu membutakan dan mengikat. Dengan sukacita karena 10 suku itu termasuk di dalamnya, ada kesedihan kehilangan dua suku yang sisa dan dua suku lain pengganti mereka, namun dengan takjub diperingatkan kepada kita mengenai akibat bencana dosa dan anugerah Allah yang menaklukkan segalanya.

0 komentar:

Posting Komentar