Kamis, 21 Desember 2017

Renungan Pagi 22 Desember 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

22  Desember  2017

Rumah Kita Yang Senang

“Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surge, dari Allah yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang  nyaring dari takhta itu dan berkata: ‘Lihat-lah kemah Allah ada ditengah-tengah manusia dan Ia akan diam brsama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka” (Wahyu 21:2, 3).

Berapa banyak orang akan mendiami Yerusalem Baru? Alkitab tidak memberikan kita catatan tentag hal itu. Namun, Yohanes Pewahyu yang diilhami menulis: “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang bnayak yang tidak dapat terhitung bamyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak domba, memakai jubah putih dan memegang daun palem di tangan mereka” (Wahyu 7:9).

Yerusalem Baru – tempat yang sangat indah dari semua ciptaan, bukanlah rumah dari orang tebusan. Ini adalah sarana yang membawa kita dari surge kembali ke atmosfer bumi di mana kita akan melihat kemuliaan Allah yang akan membersihkan planet kita ini. Kemudian setelah dunia di bersihkan oleh api yang menyala-nyala, orang benar akan keluar secara berurutan dari gerbang kota itu untuk menghuni kembali Firdaus sebagai tempat tinggal mereka.

Yerusalem baru akan tetap menjadi tempat pertemuan umat tebusan untuk bersama-sama memuji Tuhan, tetapi planet bumi ini akan menjadi pusat pemerintahan alam semesta. Setelah mencapai dunia kita, dunia ini dipulihkan dan dibarui, orang yang diselamatkan akan pergi ke kota suci untuk beribadah, dan iabadah itu akan dimeriahkan oleh kehadiran Kristus, Juruselamat kita dan Than kita.

Melihat Kristus adalah hadiah terbesar; berterimakasih kepada-Nya adalah sukacita terbesar kita; mengikut Dia akan menjadi kesenangan terbesar kita, dan kenikmatan ini akan kekal. Pilihan kita akan kekal tanpa godaan, murni, tidak bernoda, tidak bercacat, sempurna, kebahagiaan tanpa akhir.

Pengharapan itu adalah dorongan untuk pernyataan kegembiraan kita:
“Pandang Raja, dalam mulia-Nya,
Puji Dia s’lama-lamanya;
Ganti aku mati di Golgota;
Aku k’lak pandang raja.”

0 komentar:

Posting Komentar