Minggu, 31 Desember 2017

Renungan Pagi 01 Januari 2018

Renungan Pagi “Potret Kasih Allah”

01 Januari 2018

Apakah Anda Mengerti?

“ Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” (1 Korintus 10:11)

Hal ini biasa terjadi di kelas geometri. Guru menerangkan sebuah rumus, dan Henry bergumam: “Aku tak mengerti: “Aku tak mengerti.” Guru itu mencoba lagi, dan wajah Henry pun berseri, “Oh , aku mengerti!” Atau saat seorang teman menceritakan sebuah lelucon, seluruh kelas tertawa kecuali Sally yang berkata: “Aku tak mengerti.” Setelah diulangi oleh teman sebangkunya barulah Sally tertawa sambil berkata: “Oh aku mengerti!”

Terkadang ketika saya membaca sebuah buku filsafat, saya berkata kepada diri sendiri, “Aku tak mengerti.” Di saat lain, ketika ada cahaya menerangi pikiranku, aku pun berkata dalam hati: “Aku mengerti!” Buku-buku-bahkan sebuah buku cerita-yang baik terkadang seperti itu. Pada akhirnya pembaca akan berkata, “Oh aku mengerti!’

Penulis selalu mempunyai suatu pemikiran yang hendak disampaikan. Saat kita membaca tulisan mereka, kita harus mengalami suatu “perjumpaan dengan teks.” Dari sana kita harus “mengambil” apa yang dimaksud oleh penulis. Terkadang melalui interaksi dengan teks kita mendapatkan lebih daripada yang dimaksud. Dan kita akan meletakkan buku itu dengan “oleh-oleh” yang berbeda dari orang lain; manfaat yang berbeda antar satu pembaca dengan yang lain. Kita menyebutnya sebagai komunikasi yang terjadi antara kegiatan menulis/menerima.

Selalu ada “oleh-oleh” untuk kita-sesuatu yang menantang kita, sampe mempengaruhi hidup kita. Hal itu benar adanya terutama dalam membaca Alkitab. Kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah niscaya akan mendapatkan “oleh-oleh” dari pembacaan yang kita lakukan. Idealnya, ketika kita “mengerti,” selain kita menangkap maksud penulis, acapkali kita bahkan melangkah lebih jauh, saya menduga, itulah sebabnya Alkitab disebut Firman Allah yang hidup, meskipun secara kasat mata itu ditulis dengan tinta di atas kertas. Paulus mengatakan bahwa Alkitab diberikan kepada kita sebagai teladan dan juga nasihat. Ketika membaca Alkitab, pada akhirnya kita akan berkata, “Oh, saya mengerti!”

Dalam halaman-halaman buku ini saya akan membagikan kepada Anda beberapa “oleh-oleh” yang saya dapat dari Alkitab. Saya bukan seorang pelajar Alkitab; sebutan itu sepantasnya diberikan kepada rekan-rekan saya yang mengabdikan hidupnya pada disiplin ilmu teologi. Sebagai gembala dan editor lepas, saya pernah mengikuti pelatihan di bidang penafsiran Alkitab. Akhirnya saya berharap, kiranya apa yang saya “peroleh” dari membaca Alkitab ini dapat membantu Anda berseru, “Oh, saya mengerti!”


0 komentar:

Posting Komentar