Jumat, 24 November 2017

Renungan Pagi 25 November 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

25  November  2017

Hal  Paling  Utama

“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia” (1 Tesalonika 4:14).

Perhatikan bahwa rasul mendasarkan nasihatnya pada kesalahan Jemaat Tesalonika tentang keadaan orang mati pada kebangkitan Sang Pemberi Hidup itu sendiri. Implikasinya adalah bahwa harapan mereka jangan didasarkan pada pemberian pribadi yang akan datang sebanyak penghargaan yang akan kita berikan karena pelayanan pengorbanan (dulu dan sekarang) dari Tuhan yang hidup. Benar bahwa kedatangan kedua kali menekankan perbedaan keluarga Advent  dalam keluarga Kristen, tetapi juga benar-bahwa kecuali didasarkan pada pelayanan Yesus, doktrin tidaklah sesuai dan menyimpang.

Pemberitaan yang redup di depan salib membuat bentuk Kristen yang sakit. Hal itu menjadikan Kristen “fanatik” – mereka mencoba untuk mempercepat masa kesukaran dan kedatangan Kristus dengan pernyataan yang radikal. Hal ini menjadikan “keresahan” bagi orang Kristen – mereka tidak mengerti bahwa  perjuangan kita tidak akan pernah memberikan kedamaian atau keselamatan; bahwa perbuatan baik kita membuat surga berbahagia, tetapi hanya kebenaran Kristus yang dapat membuat kita masuk surga. Hal itu menjadikan orang Kristen (tidak setia) – semangat mereka yang telah lama hilang yang telah menjadi kebal “kurang pengenalan akan Salib” berseru “Yesus datang!” Itu adalah suatu “penipuan” bagi orang Kristen, mereka sering mengatakan “Selamat Sabat” sebagai topeng yang telah pudar, tanpa harapan. Dan itu dibuat untuk “menakuti” orang Kristen – mereka lebih berfokus pada kesedihan undang-undang hari Minggu daripada darah merah dan jubah putih Yesus Kristus.

Meningkatkan kemurungan sambil mengurangi arti Salib adalah sumber dari hati yang keras, kritis, tanpa ampun, anggota-anggota dengan waktu buruk, yang memberikan bukti sifat suka mengejek orang kudus sebagai “seorang yang hidup sendiri.”


Orang percaya yang harapannya berjangkar pada Kalvari memiliki kepercayaan yang tidak bisa dihilangkan oleh pencobaan, berkurang oleh waktu, atau redup karena daftar pertumbuhan kematian orang yang setia atau bahkan menjadi kuat menjelang kematian mereka sendiri. Mereka dikenal sebagai tentara salib yang gagah berani, mereka sendiri menganggap tidak lebih besar dari Tuhan mereka yaitu yang diri-Nya sendiri merasakan kematian. Semua harapan mereka ada pada kematian-Nya untuk menyelamatkan, kenaikan-Nya untuk menjadi Pengantara, dan jaminan-Nya untuk datang kembali supaya di mana Dia berada, “Di situ [kita] berada” (Yohanes 14:3).

0 komentar:

Posting Komentar