Minggu, 22 Oktober 2017

Renungan Pagi 23 Oktober 2017




Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

23  Oktober  2017

Belas Kasihan Tuhan – “Sebagai”

“Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Roma 4:3-5).

Kebenaran yang diperhitungkan adalah seperti kebenaran yang diberikan secara luar. Itu adalah serupa, tetapi berbeda dari kebenaran yang didapatkan atau dikembangkan dari dalam. Yang terakhir ini dicapai dengan partisipasi orang percaya. Yang sebelumnya adalah tanpa bantuan apa pun dari orang percaya. Kebenaran itu adalah murni dan hanya pekerjaan Kristus. Itu semua adalah pekerjaan-Nya dan bukan hasil usaha kita, hanya dengan kebenaran itu kita diperhitungkan sebagai orang benar, sempurna, dan pantas untuk berada di rumah Bapa.

Seberapa radikalkah pemisahan usaha diri kita sendiri dari kebenaran yang Yesus perhitungkan kepada kita – kebenaran yang menyelamatkan kita? Ellen White menjelaskan dengan ini:

1.       “Jubah ini, yang ditenun dengan bahan tenunan dari surga, yaitu di dalamnya tidak ditemukan ada benang manusia. Kristus dalam kemanusiaan-Nya menghasilkan sebuah karakter yang sempurna dan karakter ini Dia berikan untuk dipakaikan kepada kita” (Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, hlm. 311).
2.       “Semua manusia dapat lakukan untuk keselamatannya sendiri adalah dengan menerima sebuah ajakan “barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma” (The Seventh-day Adventist Bible Commentary, Ellen G. White Comments, hlm. 1071).
3.       “Hati yang sombong berusaha mendapatkan keselamatan; tetapi baik hati kita ke surga dan kelayakan kita untuk itu akan hanya boleh didapat dalam kenaran Kristus (Alfa dan Omega, jld 5, hlm. 319).

Kebenaran Kristus tidak membuat kita sempurna secara mutlak, tetapi itu membuat kita diterima dengan pasti. Kita tidak akan, dengan pertobatan, dikeluarkan dari tubuh daging kita yang tidak suci, tetapi ketika dipaksakan jubah-Nya,  terlibat oleh Bapa di surga “sebagai” orang yang tidak berdosa. Sebagaimana dikatakan di dalam Roma 6: 11 yaitu: Hidup kita sekarang “dianggap” sebagai manusia lama yang telah mati karena dosa; dapat dikatakan bahwa, tidak hanya mengetahui bahwa dosa tidak lagi menguasai perbuatan kita. Sementara itu, Bapa melihat penyerahan kita dan oleh perlindungan Kristus menganggap kita “sebagai” orang yang tidak berdosa (Kebahagiaan Sejati, hlm. 71).

Kekudusan kita dimungkinkan melalui penggantian Yesus. Dalam hal ini, kelayakan kita tidak pernah berkenan atau pasti. Apa yang pasti adalah sakit yang Dia rasakan, darah yang Dia curahkan, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan menyusul setelah Kalvari – semua ini perlu memotivasi dan menopang perenungan kita setiap hari.

0 komentar:

Posting Komentar