Senin, 09 Oktober 2017

Renungan Pagi 10 Oktober 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

10  Oktober  2017

Hadiah Penting

“Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta .  Ia berkata kepadanya: Hai saudara,  bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja” (Matius 22:11,12)

Budaya dunia berbeda-beda dalam merayakan cara pernikahan, semua menunjukkan nilai yang tinggi dari acara yang penting ini. Sebuah pernikahan melambangkan bukan hanya perubahan status bagi pasangan tersebut, namun menjadikan persatuan yang paling berarti di masyarakat-keluarga. Masyarakat yang sadar memahami bahwa bukanlah tugas yang mudah untuk “dua menjadi satu””; dan bahwa setelah euphoria acara itu tiba, penyesuaian pribadi diperlukan untuk penyatuan sejati; bahwa “meninggalkan dan bersatu” memerlukan pengorbanan; seperti yang dia katakan oleh Edgar Guest,”dibutuhkan sebuah kebersamaan di dalam sebuah rumah untuk membuat rumah itu.” Namun, pernikahan pada umumnya adalah acara yang dirayakan dengan bahagia.

Salah satu keistimewaan dari acara pernikahan adalah pada gaun pengantin. Pada hari pernikahan Kristus, pakaian khusus juga dituntut bagi orang yang hadir. Bahkan, mereka yang tidak memiliki pakaian yang tepat dilarang masuk dan jika perlu, diusir dari upacara itu secara memalukan.

Yesus adalah mempelai laki-laki, pengantin-Nya yang suci adalah orang tebusan; acara pernikahan adalah kedatangan Kristus yang kedua kali. Inilah sebabnya mengapa Yohanes menulis, ‘”Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai dan memuliakan Dia!Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepada-Nya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan benar dari orang kudus)” (Wahyu 19:7,8). Dan ini adalah inti dari keinginan terbesar Paulus untuk dapat ia miliki (pada saat kedatangan Kristus) bukan memiliki kebenarannya sendiri, tetapi Tuhannya (lihat Filipi 3:9). Jane Lauber mengatakan hal itu dengan baik,

“Kamu memakai pakaian kerja, sayangku,
 Yang bukan pakaian biasa.
 Pernikahan sudah dekat,
 Tolong, maukah kamu memakai

 Pakaian yang dibelikan untukmu?”

1 komentar:

  1. Pakaian kebenaran merupakan karakter Kristus: suci, bersih, tanpa noda serta berkilauan kemuliaan yang menjadi kriteria untuk masuk dalam kerajaan surga.

    BalasHapus