Kamis, 28 September 2017

Renungan Pagi 29 September 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

29  September  2017

Sebuah Masalah Pribadi

“Biarpun ditengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, merasa akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikian firman Tuhan ALLAH “ (Yehezkiel 14:14).

Ramalan tidak pernah baik. Setelah Yehezkiel menerima perintah Tuhan, tanpa keraguan dinyatakan penghakiman yang mengerikan terhadap bangsa yang tersisa di Yerusalem. Penolakan mereka untuk menuruti perintah Allah telah ia prediksi, segera akan datang penghukuman dari surga. Demikian juga orang asing, sekelompok penatua yang kembali, tidak terkejut saat dia mengulangi penghukuman yang akan terjadi atas Israel karena ketidaktaatan mereka.

Apa yang harus digunakan untuk memukul mereka, bagaimanapun, adalah kekuatan yang tidak bisa disertai peringatannya, menyatakan bahwa kehadirat Nuh, Daniel dan Ayub, tiga tokoh utama sejarah Israel, tidak bisa mencegah bencana ini. Nabi itu menutup pekabarannya dengan tegas bahwa tidak ada harapan pembebasan terhadap penduduk kota yang siap untuk dihukum mati. Dia memanggil nama-nama orang yang dekat dengan dia tidak hanya sekali tetapi empat kali selama percakapan singkat mereka, sebagai bukti niat Allah untuk benar-benar membalaskan kejahatan Israel.

Perlu disadari bahwa Nuh, Daniel, dan Ayub memiliki instrument keselamatan mereka sendiri: Nuh, seluruh keluarganya (Kejadian 6:8); Daniel, sahabat-sahabatnya (Daniel 2:18); dan Ayub, teman-temannya (Ayub 42:7, 8). Yehezkiel mengamarkan bahwa jika tiga pahlawan ini ada di Yerusalem sekarang ini, mereka tidak dapat menyelamatkan bangsa yang jahat ini. Hal ini mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah masalah  pribadi: Kita tidak dapat menyelamatkan satu sama lain, tidak peduli seberapa adil atau baik, kesabaran dan pengampunan Allah ada batasnya.

Sementara keselamatan adalah masalah pribadi, keselamatan setiap individu dipengaruhi oleh kesalehan orang lain. Setiap orang diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah. Namun, dengan teladan benar mereka, dan doa perantara mereka, pribadi yang saleh sering membangkitkan semangat untuk hidup yang saleh.

Dalam arti yang lebih luas, ada harapan dari kehadiran setiap orang yang saleh sehingga Tuhan sabar terhadap mereka yang berdosa. Perjanjian-Nya dalam hal Sodom dan Gomora yaitu: “jika hanya sepuluh orang benar ditemukan” (Kejadian 18:32), dan respons-Nya yang penuh belas kasihan terhadap permohonan Musa untuk menghapuskan namanya dari buku kehidupan tetapi menyayangkan orang berdosa (Keluaran 32:32), adalah gambaran  kasih karunia.


Demonstrasi utama kerinduan Bapa dipengaruhi oleh perantaraan yang baik untuk yang jahat, adalah karena penerimaan-Nya perihal kehidupan Yesus yang setia dan mati ganti kita. Untuk itu Yesus adalah teladan kita, menjadi perantara, dan kita sebagai unat-Nya harus memilih untuk hidup bagi-Nya dan mempercayai jaminan-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar