Sabtu, 02 September 2017

Renungan Pagi 03 September 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

03  September  2017

Raksasa Tetap Datang

“Lalu terjadi lagi pertempuran di Gat; dan di sana ada seorang yang tinggi perawakannya, yang tangan dan kakinya masing-masing berjari enam; dua puluh empat seluruhnya; juga orang ini termasuk keturunan raksasa” (2 Samuel 21:20)

Setiap hari masing-masing kita ditantang oleh raksasa pribadi kita- dorongan yang mengesankan dari dalam diri kita sendiri. Kita ada di dunia yang cenderung melakukan kejahatan, menyerukan untuk berbuat salah – cenderung mengutamakan sesuatu yang penuh dosa. Keadaan keinginan alamiah yang ada di dalam diri kita terlihat dalam tindakan dan sikap dari setiap anak. Mementingkan diri, sombong, dan kecemburuan adalah warisan yang berlangsung terus menerus yang kita warisi dari adam. Melawan kejahatan bawaan atau dendam hanya dapat dikalahkan oleh kuasa Roh Kudus. Itulah sebabnya mengapa tidak mungkin untuk memprioritaskan sesuatu secara benar tanpa tuntunan Ilahi.

Mereka yang bukan Kristen terkadang mampu mendapat keuntungan dari prioritas – pilihan yang memberikan hasil yang efektif. Tetapi kecuali motivasi mereka saat mengambil keputusan adalah karena Iman, bahkan keputusan mereka yang baik sekalipun akan tidak menyenangkan Tuhan. Dietrich Bonhoeffer, seorang yang sangat baik dari Jerman menjadi martir, menyebut prestasi yang baik tanpa motivasi khusus sebagai “kebaikan yang dicuri”; Agustine menyebutnya “kebutuhan yang tepat”; dan Ellen White menyatakan “panggung moralitas.”  Semuanya mengingatkan kita bahwa hanya pencapaian yang baik dalam merespons Firman Tuhan yang menyenangkan hati Tuhan.

Perjuangan Paulus setiap hari untuk menaklukkan keinginan daging pada dasarnya menjadi pelajaran yang baik bagi kita, Ellen White menjelaskan: “Bahwa dia bukan berlari tanpa tujuan atau secara serempangan dalam perlombaan Kristen, Paulus menundukkan dirinya dalam latihan yang keras. Kata-kata itu berbunyi: ‘Aku melatih tubuhku’, arti yang sesungguhnya ialah mengalahkan hawa nafsu, keinginan hati bahkan disiplin yang kuat” (Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 264).

Semua pertimbangan kita setiap hari harus dimulai dengan menyerah kepada kehendak Allah. Hanya apabila kita mengikatkan diri kita kepada-Nya sebagai pokok anggur maka kita memiliki gizi dan kekuatan yang memadai untuk ujian pilihan setiap hari.

Daud, prajurit pemberani,membunuh bukan hanya raksasa Goliat, tetapi juga banyak raksasa lainnya, adalah mungkin untuk mengatakan bahwa dalam peperangan melawan orang Filistin, raksasa tetap datang! Itu juga berlaku dalam kehidupan kita. Tetapi Kristus telah memberi kita Roh Kudus, yang dengan kuasa-Nya kita dapat membunuh mereka. Dan jika semua kemenangan menjadi milik kita dalam pertempuran, itu karena kita bergantung pada kebijaksanaan dan kuasa-Nya, bukan pada diri kita sendiri.

3 komentar:

  1. Kejahatan terbesar muncul dari diri sendiri, itu bisa dihindari jika kita bergantung pada Yesus Juruselamat kita.

    BalasHapus
  2. Kejahatan terbesar muncul dari diri sendiri, itu bisa dihindari jika kita bergantung pada Yesus Juruselamat kita.

    BalasHapus
  3. Kejahatan terbesar muncul dari diri sendiri, itu bisa dihindari jika kita bergantung pada Yesus Juruselamat kita.

    BalasHapus