Sabtu, 30 September 2017

Renungan Pagi 01 Oktober 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

01  Oktober  2017

Sebuah Kekudusan Yang Lebih Tinggi

“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin” (Yesaya 64:6).

Kebenaran adalah menjadi benar dan melakukan yang benar. Ini bukanlah apa yang orang lain pikirkan tentang kita, melainkan apa yang Tuhan tahu mengenai kita. Ini adalah keseluruhan hubungan seseorang dengan Allah yang dinyatakan melalui pikiran dan tindakan. Referensi kebenaran tidak didasarkan pada tindakan individu, tetapi suatu keadaan  secara menyeluruh atau kualitas kesehatan rohani seseorang. Selanjutnya, untuk layak bagi hidup yang kekal, kebenaran sesorang haruslah benar-benar tak bercacat – bersih tanpa dosa. Kebenaran yang tidak sempurna membuat seseorang tidak layak untuk hidup kekal, dan itulah masalah yang tidak dapat kita hindari. Kebenaran kita tidaklah cukup. Keadaan dan tindakan kita selalu kurang.

Paulus memikirkan tentang dilemma ini ketika ia menulis, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3: 23). Perhatikan kelengkapan kata-katanya: Mereka menutupi masa lalu mereka yang “telah berdosa” dan “gagal” sebagaimana keadaan kita sekarang. Ellen White membawa inti utamanya bahwa di masa yang akan datang kita juga akan melihat ketidaksempurnaan kita. Dia mengatakan “Semakin dekat Anda datang ke pada Kristus, makin jelas kesalahan Anda terlihat, karena pandanganmu semakin jelas, dan kekurangan-sempurnamu akan jelas bedanya sekali dengan keadaan-Nya yang sempurna” (Kebahagiaan Sejati, hlm. 74).

Ini adalah keadaan yang tidak membahagiakan kita. Kebenaran yang sifatnya mulia tidak memiliki cacat. Sifatnya tidak “relatif” atau masih dalam proses. Itu bukan suatu hal yang “relatif” atau masih berlangsung – itu harus mutlak atau sempurna. Kita, pada sisi lain, tidak benar – “tidak, tidak ada satu pun” (Rm. 3:10). Jelasnya, kita memerlukan sesuatu yang lebih baik… kesempurnaan yang lebih murni, kebaikan yang lebih besar – kesucian yang lebih tinggi jika ingin diselamatkan. Dan kebenaran siapakah  ini? Ini adalah kebenaran Yesus. Ini merupakan apa yang ada di dalam pikiran Paulus ketika dia memohon, “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Filipi 3:9).


Ya! Kebenaran-Nya adalah lebih baik dan lebih berharga dari apa  pun yang pernah ada di dalam sejarah penciptaan seluruh alam semesta. Itu lebih baik karena diperoleh dari suatu kesulitan yang tidak dapat dibayangkan; lebih baik karena dipicu oleh kasih yang murah hati, yang tidak dapat dipikirkan, lebih baik karena dijamin oleh darah anak domba Kalvari yang berharga, lebih baik karena Dia tidak (seperti yang biasa dilakukan oleh orang miskin yang sudah mencapai kemakmuran) meninggalkan sanak saudara-Nya; dan lebih baik karena Dia “yang sudah hidup” untuk mengadakan perantaraan atas nama mereka yang Dia telah tebus.

0 komentar:

Posting Komentar