Kamis, 24 Agustus 2017

Renungan Pagi 25 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

25  Agustus  2017

Saksi Yang Berbelaskasihan

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Lukas 15:20).

Ketika Yesus lahir, pandangan keliru mengenai Bapa sebagai makhluk yang kaku atau bersifat lunak yang dikemukakan oleh Iblis selama 4.000 tahun. Tetapi itu adalah pandangan mendominasi sebelumnya. Mengingat keadaan manusia yang malang pada saat kelahiran-Nya, fakta bahwa penyakit dan penderitaan, sebagian besar biasanya diakibatkan oleh pemborosan dan penyembahan berhala, begitu meresap, tidak heran jika Sang Pencipta terlihat seolah-olah kurang berbelaskasihan.

Selama 4.000 tahun korban-korban telah mendengungkan kedatangan Mesias dan janji itu belum digenapi. Sungai darah mengalir, hutan kayu telah ditebang habis, pegunungan mezbah baru telah didirikan, dan generasi demi generasi telah berlalu dalam pengharapan pembebasan yang tidak pernah datang. Tetapi kemudian, ketika pada waktu yang tepat. Dia datang – Dia, Firman Bapa, ekspresi nyata bagi manusia, memberi bukti yang lengkap tentang karakter-nya yang sejati.

Dia menyatakan dalam tindakan belas kasihan-Nya, kata-kata-Nya yang memberi kenyamanan, hidup pengorbanan-Nya, bahwa Dia, manusia, guru yang dapat dilihat dari Galilea, anak Maria dan Yusuf, sahabat manusia  dan penyembuh hati, adalah saksi Allah yang sejati. Dia berulang kali mengingatkan manusia bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dia menggambarkan kebenaran ini dengan banyak perumpamaan. Salah satu berbicara mengenai pemilik yang pergi yang, setelah mengirim beberapa hamba untuk menanyakan miliknya, akhirnya mengirim putranya, yang dibunuh oleh hamba yang jahat (Mat 21: 37-40). Yang lainnya menampilkan anak-anak yang hilang yang bapanya, ketika dia kembali, “berbelaskasihan” dan menyambut kepulangannya; masih ada yang lain, orang Samaria baik hati yang memiliki belas kasihan kepada orang asing  yang terluka (Luk. 10:33).

Dia juga menyoroti kisah Bapa melalui contoh doa yang Dia ajarkan kepada mereka, dan kita, untuk menyebut Dia sebagai Bapa yang baik yang penuh kasih. Ekspresi yang paling mengesankan, bagaimanapun, adalah kematian – bukan hanya ditinggalkan oleh pengikut-Nya di bumi, tetapi juga diasingkan dari Bapa-Nya.


Dia, saksi kita yang telah bangkit, masih sama – “’Tak berkesudahan kasih setia TUHAN” (Rat. 3:22). Dia tidak lagi bersama kita secara fisik, tetapi melalui malaikat-Nya dan Roh Kudus ia berbicara melalui hati kita, menyatakan bahwa “tidak ada dukacita di dunia yang surga tidak dapat sembuhkan,” mengingatkan bahwa di atas “kesuraman yang tidak dapat dipahami “  duduk  “pengamat Ilahi” mengarahkan dengan cara terbaik untuk menuntun anak-anak-Nya mengingatkan mereka “bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka  yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28).

0 komentar:

Posting Komentar